Syantika dan Tikus Pembangun :))

Suatu ketika di desa nan jauh dari peradaban kota, hiduplah seorang gadis yang tinggal di desa terpencil itu. Nama gadis itu Syantika. Syantika gadis ini selalu ceria dan menganggap bahwa keajaiban itu selalu ada. Dia sering berimajinasi tentang banyak hal, misalkan saja ketika ia sedang duduk manis termenung di pinggir kolam ikan. Ia bisa saja asyik ngobrol sendiri. Dalam angannya ia tidak sedang ngobrol sendiri, tetapi ia sedang berbincang-bincang dengan ikan yang sedang berenang-renang dengan riang yang mengelilingi kedua kakinya yang sedang tercelup didalam kolam. Itulah Syantika. Gadis periang dan penuh imajinasi di dalam otaknya.

Kedua orang tuanya juga mengetahui bahwa putrinya itu memang seorang gadis pemimpi. Imajinasinya yang berlebihan itu terkadang membuat orang tuanya khawatir. Ibunya yang adalah seorang guru SD dan ayahnya yang bekerja sebagai petani mulai membahas tentang perkembangan putri semata wayangnya itu.

Ayahnya yang baru saja pulang dari ladang, duduk santai bersandar di pinggir pintu, dan sang Ibu yang baru saja pulang mengajar dengan cekatan membuat satu cangkir teh manis hangat untuk menyambut kedatangan sang suami tercintanya itu.

Dengan membawa satu cangkir dalam nampang sang ibu menghampiri sang suami “Pelayanan dari istri paling siaga.. Silahkan diminum teh manis istimewa. ” sambil menyodorkan cangkir berisi teh manis hangat.

Ayah Syantika tersenyum lebar menerima cangkir itu “Terimakasih isteriku yang paling cantik di dunia.” sambil memegang dagu sang isteri.

Akhirnya ayah Syantika meneguk air teh manis dalam cangkir bercorak bunga sepatu itu dan setelah meminum satu teguk, ia mulai membuka pembicaraan “Syantika kemana ya bu ?” tanya sang ayah.

Sang Ibu yang ikut duduk selonjoran di lantai itu berkata “Yah paling di kolam ikan. Dimana lagi coba? Palingan juga lagi ngobrol sama ikan-ikan di kolam. ” sambil tersenyum sang ibu menjawab.

Sang ayah seperti mengkhawatirkan sesuatu, tetapi entah apa yang ia khawatirkan. Ya tentang Syantika yang selalu berkhayal dan menanggap semua yang ada di dunia ini seperti dongeng.

“Bu, saya khawatir sama anak kita. Usianya sudah tujuh tahun, tetapi ia masih saja berkhayal yang aneh. Ia masih menyangka bahwa hewan bisa berbicara. Bagaimana mungkin hewan bisa bicara? Lebih baik kamu beritahu pelan-pelan.”

Sang ibu hanya tersenyum dan berkata “Biarkan Pa.. Biarkan Syantika seperti itu. Dia akan mengerti dunia ini seperti apa nantinya, tetapi jangan rusak imajinasinya. Walaupun dia seorang penghayal tetapi ia cerdas dan pintar.” tegas sang ibu.

Percakapan mereka berdua tentang Syantika berakhir sampai disitu, namun sang ayah tetap saja khawatir. Ia mengkhawatirkan Syantika tidak bisa keluar dari negeri dongengnya itu.Sang ayah hanya bisa menghela nafas panjang kala itu.

%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%

Hari semakin sore, Syantika yang masih asik duduk ditepian kolam telah menyadari langit berubah menjadi semakin kusam. Tampaknya akan ada hujan besar. Syantika lekas cepat-cepat meninggalkan kolam ikan itu. Tetesan air hujan telah mengalir dan alirannya cukup deras. Syantika lari terbirit-birit mencari tempat berteduh.

“Ya Tuhan, aku basah kuyup gini… dingin banget rasanya. ” Syantika berbicara sendiri sambil menggigil kedinginan. Syantika berteduh di saung sederhana yang memang dibuat oleh penghuni desa agar bisa dipakai duduk-duduk oleh warga setempat.

Syantika duduk-duduk saja di saung beratapkan anyaman bambu itu, di sebrang saung terdapat sungai kecil yang menjadi pembatas antara desa Rebana dan Ketana. Syantika hanya bisa memandangi sungai itu. Ya jelas saja Syantika hanya bisa memandangi sungai itu karena tepat di depan saung itu hanya ada pemandangan sungai.

Syantika terus saja menatap ke arah sungai dan ada pemandangan yang cukup ganjil di arah sungai. Ada kawanan tikus yang berhamburan di sana. Dan semakin lama Santika memperhatikan kawanan tikus itu semakin yakin bahwa tikus-tikus itu membawa potongan rotan yang cukup banyak dan tali jerami yang cukup panjang. Syantika tak percaya dengan pemandangan itu. Ia berfikir apakah ini imajinasinya saja atau ???? Realita???

Syantika menepuk-nepuk pipinya dan ia mencubit tangannya. Teriakkan dari mulutnya pun terdengar “Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh, sakit ! Ya Tuhan tikus-tikus itu ternyata sungguhan dan membawa potongan rotan.”

Gadis ini cukup penasaran dengan apa yang dilihatnya, dan ia memutuskan untuk menghampiri gerombolan tikus itu.

Syantika mendekati tepian sungai dan kebetulan hujan sudah cukup reda, kala ia menghampiri kawanan tikus itu. Syantika keheranan ada satu tikus yang ia lihat disana memakai pakaian layaknya kontruktor bangunan dengan memakai helm berwarna putih.

Sekali lagi gadis ini merasa ia sedang bermimpi kembali, mengapa dunia dongeng yang ia selalu impikan terjadi di depan matanya dan sepertinya ini adalah anugerah dari tuhan karena ia dapat menikmati pemandangan itu.

Tikus itu berteriak kepada teman-temannya yang lain “Hai kalian semua, yang kompak ya ! Kita harus memabangun jembatan agar setiap orang ataupun tikus-tikus dapat berjalan-jalan ke desa seberang ..Siapa tahu ada tikus di desa seberang yang cantik-cantik!” canda tikus itu.

Syantika masih takjub dengan pemandangan itu dan ia merasa bahwa tikus itu seperti manusia yang dapat berkomunikasi dan menggunakan bahasa pengantar yaitu bahasa Indonesia. Tak tanggung-tanggung Syantika akhirnya menampakkan wujudnya di hadapan khalayak tikus-tikus itu.

Syantika berkata “Hai kalian tikus-tikus.. kenapa kalian bisa ngomong kaya aku ? Udah gitu kok bawa-bawa rotan. Sebenarnya kalian ini tikus jelmaan ya?” tanya Syantika dengan polos.

Tikus yang memakai helm putih itu angkat bicara “Hai gadis kecil, emangnya manusia doang yang bisa ngomong ! Tikus juga bisa kali..”

Syantika yang masih tidak percaya membalas omongan sang tikus tadi “Ya ampun, ini semua ga mungkin banget. Mana ada tikus bisa ngomong. Ini pasti aku sedang berkhayal. Seperti aku berkhayal di kolam ikan tadi. ”

Semua tikus-tikus yang ada di sana mentertawakan Syantika. “Hahahahahahahahaha” para tikus tertawa dengan renyah.

Tikus uang memakai helm putih berbicara kembali “Hai, gadis cilik! Kami beneran bisa ngomong kok. Kami semua disini memang tikus-tikus yang bisa berkomunikasi layaknya manusia. Perkenalkan nama saya Mousida. Kami diutus dari kerajaan Mouzara untuk membantu tugas manusia yang ada di desa ini. Raja tikus memerintahkan kami untuk menjadi tikus pembangun.”

Santika masih saja memasang wajah polosnya sambil melongo “Hoooooooooooooooooo” santika bergumam. “Memang ada ya kerajaan tikus.. kok baek banget raja tikus mau membantu manusia di desa kami.Mousida kenapa raja kalian baik sama manusia. Bukannya tikus itu pengerat dan binatang pengganggu ya ? ”

Mousida pun mulai menceritakan asal mulanya mengapa ia bisa berada di desa Rebana ,” Begini gadis cilik, dulu sang raja pernah di tolong oleh pemuda yang tinggal di desa ini. Seluruh orang-orang mengejar sang raja karena sang raja di kira akan menghancurkan tanaman yang ada di sekitaran sawah. Namun ada sesosok pemuda yang menyelamatkan sang raja. Dan sebagai balas budi sang raja kepada pemuda itu. Beliau memerintahkan kami untuk membangun jembatan ini. Karena sang pemuda itu berkata bahwa desa ini cukup sulit untuk pergi ke desa seberang karena tidak ada jalan lain selain membuat jembatan di sungai ini.”

“Ooh begitu yaaaa. Lalu apa yang harus aku lakukan agar aku bisa membantu kalian” tanya gadis cilik itu dengan polos.

“Gadis cilik kamu tidak usah membantu kami kok. Kami mampu melakukan ini semua. Membangun jembatan ini untuk kalian…” jawab Mousida.

“Tapi.. aku ingin membantu kalian. Disini kan banyak orang juga yang bisa membantu dan supaya cepat selesai. Lagian lebar sungai cukup panjang jaraknya. Aku ga yakin kalian bakal selesain itu semua dengan cepat. Bisa-bisa kalian mati terbawa arus sungai. ” jelas Syantika.

Mousida berfikir, sepertinya perkataan gadis cilik itu ada benarnya juga. Kemudian Mousida berkata lagi “Baiklah gadis cilik apa rencanamu untuk membantu kami ? ” tanya Mousida.

Syantika sambil memegang kedua kepangan rambutnya pun berkata “Hmmm.. aku akan panggil seluruh warga dengan menggunakan kentongan yang ada di sana.” Syantika berkata sambil menunjuk ke arah kentongan yang ada di sekitaran saung dekat sungai itu.

Mousida pun bertanya kepada kawanan tikus lainnya “Bagaimana kawan-kawan? Apakah kalian setuju dengan ide gadis cilik itu ? ”

Kawanan tikus itu menjadi sangat ramai. Mereka berbisik-bisik satu sama lain dan akhirnya mereka memutuskan “SETUJUUU MOUSIDA!!!!!”

Syantika tersenyum simpul dan dengan girangnya ia berkata “Oke kalau gitu aku pukul kentongannya biar orang-orang pada datang kesini! ”

%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%

Syantika berlari ke arah saung itu dan segera mengambil kentongan, dipukul sekencang-kencangnya kentongan itu

“”TOK … TOK .. TOK … ”

“”TOK … TOK .. TOK … ”

“”TOK … TOK .. TOK … ”

“”TOK … TOK .. TOK … ”

“”TOK … TOK .. TOK … ”

“”TOK … TOK .. TOK … ”

“”TOK … TOK .. TOK … ”

Puluhan kali Syantika memukul kentongan itu, sampai akhirnya seluruh warga datang berkumpul ke arah sumber suara kentongan itu berada.

Pa RT yang lari terbirit-birit mendengar kentongan itu seraya terkejut ketika melihat ternyata pelaku pemukul kentongan itu adalah Syantika gadis cilik periang itu.

Pa RT bertanya kepada Syantika “Aduhh Neng … aya naon atuh? Naha eta kentongan di pukul-pukul wae.. ”

Syantika pun yang masih memegang kentongan lengkap dengan kayu pemukul itu berkata,

“Pa RT  jangan kaget dulu ya. Syantika mau cerita nih, jadi gini pa RT ada gerombolan tikus yang diutus datang buat bantu kita membangun jembatan agar desa kita bisa pergi ke desa seberang !”

Pa RT dan orang-orang yang ada di dekat saung itu mentertawakan omongan gadis cilik itu. “Hahhahhahahahahahhaha, ga mungkin atuh neng.. Mana ada tikus bisa ngabangun jembatan ayana ge.. ngahancurkeun jembatan..”

Pa RT masih cekikikan dengan warga desa yang lain. Syantika agak kecewa dengan tanggapan pa RT barusan, namun ia tidak menyerah!

Syantika pun memboyong pa RT ke arah sungai beserta warga desa yang lain “Noh pa RT kawanan tikusnya. Percayakan mereka mau ngebangun. Liat mereka udah bawa tali sama potongan rotan. Banyak pula. Saya manggil warga desa sini supaya membantu tikus-tikus pembangun ini untuk membangun jembatan! Saya ga bohong kan ??”

Semua orang takjub melihat pemandangan baru dan aneh itu. Mousida pun mulai berkata “Wah gadis cilik kamu beneran bawa orang-orang kesini.”

Pa RT dan warga sekalian kaget dan sedikit takut, pa RT mulai berkata “Aduh neng Syantika.. Ini teh beneran  tikus bisa ngomong. Neng upami ieu tikus jalmaan kumaha atuh? ” tanya pa RT kepada Syantika.

Sebelum Syantika menjawab, Mousida berbicara terlebih dahulu menjelaskan maksud kedatangan kawanan tikus “Pa RT jangan takut, kami kesini mau membantu kalian semua atas perintah raja tikus. Raja tikus berkata bahwa ia pernah di tolong oleh seorang pemuda di desa ini dan pemuda itu berpesan bahwa ia ingin agar desa ini bisa memiliki jalur transportasi ke desa lain. Makanya kami datang kesini pa RT! ” tegas Mousida.

Pa RT masih saja takjub dan sedikit melongo, namun sebagai ketua RT yang bijak ia pun harus segera menyikapi semua peristiwa dan keinginan para tikus membangun desa Rebana.

“Baiklah para tikus, kalau memang kalian ingin membangun jembatan akan kami bantu. Kita gotong royong membangun jembatan itu !” jawab pa RT tegas.

Akhirnya para tikus dan warga desa bergotong royong dan saling membantu membangun jembatan untuk desa Rebana. Ayah dan Ibu Syantika yang awalnya tidak suka dengan sikap Syantika yang suka berkhayal itu, akhirnya percaya kepada Syantika bahwa khayalan itu tidak salah dan kenyataannya khayalan itu benar-benar terjadi dan menjadi kenyataan bahwa hewan pun bisa berkomunikasi dengan manusia dan bisa saling tolong menolong 🙂

 

————————————————————–THE END——————————————-

Created by : Willma Quenicka

Catatan ini hanya dongeng belaka jadi jangan sampai percaya ya 😀

Terimakasih sudah membaca dongeng saya 😀

Iklan

Peri yang terbuang ^^

mail.google.com

Suatu hari, di suatu tempat yang nan jauh diatas sana… Tempat ini berada diatas lapisan langit ke tujuh langit. Bisa dibilang tempat ini adalah lapisan ke tiga belas dari sang langit. Di lapisan ke tiga belas ini ada suatu kerajaan yang bernaung di langit ketiga belas. Nama kerajaan itu adalah kerajaan Graverari. Wujud penghuni negeri ini seperti manusia yang tinggal di planet bumi. Mereka punya tangan dan kaki layaknya manusia. Mereka juga bernafas seperti manusia 🙂 walaupun kandungan oksigen di negeri ini tidak seperti di bumi 😀 .

Negeri ini penuh dengan peri-peri, karena setiap penghuni negeri ini dipanggilnya bukan manusia, tetapi peri. Peri memiliki banyak keunikan, mereka bisa terbang, mereka dapat menciptakan banyak keindahan secara serentak.

Suatu saat di dalam kerajaan Graverari ada kejadian yang sangat memalukan 😦 . Sebenarnya hal ini tidak seharusnya terjadi, pusaka di kerajaan Graverari menghilang. Kristal yang menjaga keseimbangan negeri ini pun tiba-tiba lenyap seperti ditelan bumi.

Sang raja marah besar, ia mengeluarkan titahnya untuk menggeledah seluruh rumah yang tersebar di lapisan langit ketiga belas. Sang raja mengerahkan satu batalion tentara kerajaaan untuk melakukan penggeledahan.

Akhirnya setelah penggeledahan berhari-hari yang dilakukan, pasukan kerajaan menemukan pelakunya. Ya ada satu peri nakal yang melakukan pencurian. Dengan sangat terpaksa sang peri diseret ke kerajaan untuk menemui sang Raja.

Sang peri itu bernama Zuzurealia. Namanya sangat sulit untuk disebut dan sifatnya pun sama sangat sulit ditebak. Selama perjalanan Zuzurealia tidak melakukan perlawanan sedikit pun. Entah sedang memikirkan apa, namun yang jelas seluruh pasukan keheranan karena ia tidak membantah sedikit pun.

Seluruh pasukan yang mengawalnya berusaha tetap waspada dan berjaga-jaga. Sang pasukan akhirnya memutuskan agar Zuzurealia di pasung dan dimasukkan ke dalam kerangkeng besi yang amat kuat dan dirantai dengan rantai yang paling bagus kualitasnya agar ia tidak bisa melarikan diri.

Akhirnya mereka tiba di kerajaan Graverari, dan sang Raja pun sangat penasaran siapakah pencuri pusaka kerajaan. Jauh dari dugaan sang raja, sang raja berfikir bahwa pencuri itu berbadan besar dan sangar dengan watak yang keras dan melawan jika ia ditangkap. Tetapi kenyataannya lain ternyata hanya peri ingusan yang kira-kira usianya baru 15 tahun. Sang Raja pun tidak habis pikir, ia ingin marah namun yang ia hadapi hanya bocah ingusan saja. Sepertinya tidak layak ia berlaku terlalu keras.

Sang Raja tetap saja penasaran, mengapa peri ingusan ini mengambil pusaka kerajaan yang menjaga kestabilan negeri ini. Akhirnya sang Raja berusaha menahan amarah dan bertanya kepada Zuzurealia.

“Wahai sang peri? Siapakah namamu ? ”

Zuzurealia menatap sang raja, dengan tatapan sedingin batu es. Tatapan yang kosong dan seperti tidak ingin menjawab pertanyaan sang Raja. Namun sang pengawal yang menjaganya menunjukkan tombak tajam ke arah pinggangnya dan berkata “Hei !!! Jawab pertanyaaan Raja. Janganlah kamu berdiam diri ! Raja adalah orang yang berkuasa disini. ”

Dengan terpaksa Zuzurealia menjawab sambil malas “Saya Zuzurealia.”

Sang Raja terdiam, di negeri yang ia pimpin ternyata ada nama penduduk yang begitu aneh dan sulit untuk disebut.

Sang raja tertawa mendengar nama Zuzurealia dan sedikit mengejek “Hahahahahahhahaa, siapa tadi namamu Zuzu apa tadi ? Mengapa sangat aneh dan tidak indah. ”

Zuzurealia hanya diam dan tidak menggubris ejekan sang Raja. Sang raja pun agak kesal melihat tingkahnya. Tetapi sang raja ingin mengetahui alasan mengapa Zuzurealia ini mencuri pusaka itu.

Akhirnya sang raja pun bertanya “Hi kamu peri yang sulit sekali namanya ! Mengapa kamu mencuri pusaka kerjaan ? Apa alasanmu? Coba jelaskan ! ”

Pengawal itu masih berada di samping Zuzurealia dan masih menodongkan tombak ke arah wajahnya. Jaraknya sangat dekat jika Zuzurealia macam-macam maka tombak itu bisa saja menghantam wajahnya.

Zuzurealia tidak punya pilihan lain selain menjawab pertanyaan sang raja. Akhirnya ia pun angkat bicara “Saya mencuri barang itu karena saya suka dengan bentuknya dan kilauan cahayanya. Itu saja alasan saya. Bahkan saya tidak tahu fungsinya sebagai apa ? ”

Sang raja semakin kesal mendengar jawaban itu “Errrrrrrrrr, baru kali ini ada tawanan yang membuat saya sangat kesal…Dan saya tidak menginginkan kamu berada di negeri ini dan di sekitar langit ketiga belas. Saya akan mengusir kamu ke negeri yang bernama BUMI !!!!”

“Pengawalllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllll!!!!!” teriak sang raja sampe suaranya habis.

“Baik yang mulia !” serentak seluruh pengawal menjawab.

“Saya perintahkan untuk mengusir peri ini ke bumi!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Dan cabut seluruh kekuatannya !!!! Biarkan dia di bumi dengan tidak memiliki talenta apapun!!!! Ia tidak pantas mendapatkannya!!!!  ” sang raja berteriak dan semakin geram.

Akhirnya seluruh pengamanan yang menempel di badan Zuzurealia seperti gorgol, rantai , dan lain sebagainya dilepaskan oleh pengawal dan kekuatannya telah di cabut oleh sang Mahaguru langit ke tiga belas.

Para pengawal memboyong Zuzurealia ke suatu tempat. Tempat itu adalah tempat dimana peri bisa teleport ke bumi.Kali ini adalah kali pertama dan terakhir ia berada di tempat itu, karena ia akan dibuang ke bumi. Otomatis ia tidak akan pernah singgah lagi ke tempat teleport itu.

Sang penjaga tempat itu mengaktifkan mesin yang memutarkan semua orang yang ada di ruangan itu dan ada cahaya yang begitu terang menghampiri Zuzurealia. Zuzurealia berteriak sangat kencang “Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk!!!!!!!!”

Tak lama setelah cahaya yang menghampirinya, ada atmosfer aneh yang ia rasakan. Ia merasakan oksigen yang sangat berlebih di tempat yang baru saja ia singgahi. Ia sekarang sudah ada di Bumi.

Zuzurealia hanya bisa menggerutu sendiri “YA AMPUN … SAYA SUDAH DI BUMI dan SAYA  TERBUANG disini…” Zuzurealia masih berusaha menggunakan kekuatan yang ia punya. Ia memutar telunjuk kanannya dan mengucapkan mantra “Rezaselegia hup hup !!!!”

Dan alhasil, mantranya tidak bisa bekerja. Zuzurealia pun kebingungan dan sangat frustasi saat itu.

“Apa yang harus saya lakukan ? saya tidak punya kekuatan bagaimana saya bisa tinggal di tempat asing seperti ini. ”

Zuzurealia hanya bisa meratapi nasibnya yang sekarang telah menjadi manusia dan tidak mempunyai kekuatan layaknya seorang peri.

Created by : Willma Quenicka

Kisah seseorang lelaki yang berasal dari Negeri Pemalas :)

negeri dongeng

 

Suatu hari di negeri entah berantah, bukan di Indonesia ataupun di belahan negeri manapun…

Di negeri dimana semua orang tidak punya semangat dalam hidupnya…

Yah negeri ini bernama negeri pemalas, bagaimana rasanya jika kita hidup di negeri seperti ini ?

Sepertinya kita akan selalu malas melakukan apapun, mulai dari hal yang kecil apalagi sampai hari yang amat sangat besar.

Suatu saat ada seorang lelaki yang tinggal di negeri pemalas ini. Lelaki itu bernama Lazirius.

Alhasil dengan nama seperti itu , dia mendapat peringkat paling malas di negerinya. Mungkin di negaranya, ia akan menjadi orang yang paling di hormati karena ia adalah seorang yang paling malas…

Suatu ketika, sang raja di negeri pemalas itu memberi titah kepada Lazirius untuk mengembara ke negeri seberang.

Negeri yang selalu menjadi kontra dengan negerinya itu.Negeri  Pengrajin…

Raja berpesan kepada Lazirius “Hai kau Lazirius, pergilah ke negeri sebrang negeri sang pengrajin cari tahu apa rahasia mereka. Mengapa negeri itu begitu makmur dan kaya akan harta kekayaan yang tak terkira di negerinya.. ”

Untuk hal yang satu ini Lazirius tidak bisa malas untuk menerima titah raja, karena sang raja adalah orang yang paling berkuasa di negeri itu.

Perjalanan Lazirius begitu membuat dia kelimpungan, karena sifat ia yang sangat pemalas. Untuk membeli perbekalan saja ia malas. Alhasil karena kemalasannya itu.. ia harus menunda perjalanannya menuju negeri sebrang selama satu minggu.

Setelah penundaan yang cukup panjang, ia akhirnya dapat pergi ke negeri sang pengrajin.

Lazirius memasuki gerbang negeri pengrajin, ia takjub dengan kondisi sekitar yang ia lihat disana. Disana semua orang begitu rajin bekerja, tidak ada satupun yang bermalas-malasan…

Semua bergerak dengan cepat tanpa ingin menghilangkan waktunya satu menit yang sangat berharga. Lazirius berkata kepada dirinya sendiri, ia harus bisa berubah setelah mendapatkan banyak pelajaran dari petualangannya di negeri sang pengrajin ini.

Di negeri sang pengrajin ada satu tempat yang selalu di kunjungi banyak orang disana. Tempat itu adalah toko roti “Clever” ..

Di toko roti itu Lazirius melihat seorang gadis yang sangat gesit. Gadis itu adalah Cleveria.. Cleveria adalah anak sang pemilik toko.

Tatapan Lazirius dan Cleveria saling bertemu, Lazirius tersenyum simpul ke arah gadis itu. Tak lama kemudian gadis itu menghampiri Lazirius. Dan bertanya “Wahai, engkau pria asing . Dari mana asalmu? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya di negeri sang Pengrajin ini ..”

Dengan rasa hormat Lazirius membungkukkan badannya dan berkata kepada gadis itu “Namaku Lazirius , saya  berasal dari negeri seberang negeri sang pemalas..

Cleveria sedikit tertawa “hahaha…Ada apa geragan ada orang dari negeri sang pemalas datang kemari ?”

Lazirius pun dengan bangga berkata “Sang raja memerintahkan saya untuk pergi ke negeri ini dan mencari rahasia dari kemakmuran negeri ini …”

Dengan gampangnya Cleveria pun menjawab “Gampang kok kalian tinggal tidak malas .. memulai segala sesuatu dengan keyakinan dan kesanggupan diri bahwa saya tidak akan malas..”

Lazirius pun tersenyum sinis kepada Cleveria “hai kamu mengapa bicara seperti itu ? negeri kami memang semuanya pemalas bagaimana mungkin menghilangkan itu semua..”

Cleveria menjawab dengan lantang “Semua tergantung kemauan kalian semua wahai negeri pemalas untuk berubah menjadi lebih rajin dan bisa mengubah diri kalian menjadi lebih baik.”

Lazirius pun keheranan dengan hal yang dikatakan Cleveria, ia pun beranjak pergi dari negeri itu dan segera menghadap raja ke negeri sang pemalas.

Akhirnya Lazirius sampai ke negerinya kembali. Sang raja dengan tidak sabar ingin mendengar petualang Lazirius ke negeri seberang.

Sang Raja pun berkata “Wahai lazirius apa yang kau dapat dari negeri seberang ?” Lazirius pun menceritakan hal yang ia lihat selama ia melancong ke negeri seberang. Dengan rasa penuh hormat Laziriuspun menjawab pertanyaan sang raja “Raja, saya melihat semua orang disana tidak ada yang malas, semua bergerak dengan rajin mengerjakan segala sesuatu. Seolah-olah waktu satu menitpun tidak boleh terlewatkan. Dan saya bertemu dengan salah seorang penghuni negeri sang Pengrajin ia berkata kepada saya bahwa semua hal yang akan dimulai tidak boleh di kerjakan dengan malas tetapi dengan penuh keyakinan dan kesangupan diri dan tidak boleh malas.”

Sang raja negeri pemalas itu agak sedikit keheranan mendengar celotehan Lazirius, tetapi sang raja yang bijaksana itu berkata “Baiklah Lazirius saya akan memerintahkan kepada penasehat kerajaan agar menuliskan perintah kepada seluruh rakyat untuk rajin dan tidak bermalas malasan agar negeri kita menjadi lebih baik. ”

Akhirnya sang raja mengeluarkan perintahnya dan seluruh rakyat menurut segala titah raja itu. dan akhirnya kurang dari satu tahun negeri sang pemalas menjadi negeri yang masyur dan tidak kekurangan apapun…

Created by : Willma Quenicka

Pesan moral dari cerita ini adalah yu berubah menjadi tidak malas dan bisa membuat hal yang lebih baik 🙂