Making Love Like a Turtle :)

Selamat pagiiiiiiiiiiii, Cimahi makin aneh suhu udaranya. Dingin abis nih! Saya jadi terinspirasi untuk nulis artikel di blog :). Jadi daripada bengong ga bisa tidur lagi mending menulis di cerita lepas.

Beberapa hari yang lalu, sepulang kerja gak sengaja nonton film kartun :). Disitu menceritakan kehidupan para hewan yang memperjuangkan hidupnya dengan memberontak. Para hewan ini memberontak karena tingkah manusia yang semakin aneh dan tidak mau bekerja sama dengan ekosistem serta pelaku ekosistem.

Tapi dari film kartun itu ada hal lain yang menjadi sorotan buat saya pribadi. Kehidupan percintaan dari seekor kura-kura :).

Kura-kura adalah binatang yang hidupnya serba lambat (dan kalau kata fengshui memelihara kura-kura buat rezeki agak terhambat karena mereka selalu lambat dalam melakukan sesuatu.

Namun ada hal yang menarik dari seekor kura-kura yang belum tentu bisa dicontoh oleh manusia ;).
Manusia kerap kali jika merasa tidak cocok dalam kehidupan pernikahannya akan dengan mudah memutuskan untuk segera berpisah. Kura-kura mungkin tidak sekompleks manusia!
Kura-kura tidak pernah banyak menuntut seperti manusia. Mereka hidup dengan serba lambat! Tapi mereka tetap menjalani hidupnya dengan kelambatannya.
Kura-kura akan hidup dengan pasangannya itu beratus-ratus tahun dengan pasangan yang sama sedangkan manusia? 1 harikah? 1 bulankah? 1 tahunkah? 1 windukah? 1 dasawarsakah?

Di era modern yang segala serba canggih dan hal yang kompleks menjadi mudah. Tapi kehidupan percintaan manusia jadi terlihat semakin kompleks!

Dan tidak seperti kura-kura yang bisa hidup bersama dalam kelambatan dan keterbatasannya dalam hidup.
Dan ada keunikan kura-kura, jika salah satu pasangannya mati. Maka pasangannya juga akan ikut mati :).
Jadi kisah cinta sang kura-kura beratus-ratus tahun dan hanya akan berakhir pada satu cinta…

Satu kalimat ini yang bisa saya definisikan dari apa yang saya lihat dan saya tahu..Making Your Love Like a Turtle 😉 sepertinya akan indah 🙂

Kisah Botol Acar

Setelah 2 minggu terakhir ini saya sangat sibuk bekerja dan alhasil kesehatan saya menurun. Teguran dari Tuhan untuk saya agar bisa menjaga kesehatan saya dan hari ini akhirnya saya tidur siang juga karena sakit. Puji Tuhan saya masih dikasih kesempatan untuk istirahat banyak di rumah saya.
Sebenarnya bukan ini yang menjadi topik cerita saya yang berjudul Kisah botol Acar… Acar itu salah satu makanan kesukaan orang yang saya cintai 😉 dan kebetulan ada ceritanya. Cerita ini saya dapatkan dari artikel di gerejanya dan saya membacanya. Menurut saya patut untuk di re-blog kembali…

Sumber : http://www.jawaban.com/index.php/spiritual/detail_views/id/0/news/110131164836/limit/0/headline/Kisah-Botol-Acar/limit/5

Setahuku botol acar besar itu selalu ada di lantai di samping lemari di kamar orangtuaku.Sebelum tidur,ayah selalu mengosongkan kantong celananya lalu memasukkan uang recehnya ke dalam botol itu.

Sebagai anak kecil,aku senang mendengar gemerincing koin yang dijatuhkan ke dalam botol itu.
Bunyi gemercingnya nyaring jika botol itu baru terisi sedikit. Nada gemerincingnya menjadi rendah ketika isinya semakin penuh. Aku suka jongkok di lantai di depan botol itu, mengagumi keping-keping perak dan tembaga yang berkilauan seperti harta karun bajak laut, ketika sinar matahari menembus jendela kamar tidur.

Jika isinya sudah penuh.Ayah menuangkan koin-koin itu ke meja dapur, menghitung jumlahnya sebelum membawanya ke bank. Membawa keping-keping koin itu ke bank selalu merupakan peristiwa besar. Koin-koin itu di tata rapi di dalam kotak kardus dan diletakkan di antara aku dan Ayah di truk tuanya. Setiap kali kami pergi ke bank, Ayah memandangku dengan penuh harap “Karena koin-koin ini, kau tidak perlu kerja di pabrik tekstil. Nasibmu akan lebih baik daripada nasibku. Kota tua dan pabrik tekstil di sini takkan bisa menahanmu.”

Setiap kali menyorongkan kotak kardus berisi koin itu ke kasir bank. “Ini uang kuliah putraku.Dia takkan bekerja di pabrik tekstil seumue hidup seperti aku.”

Pulang dari bank, kami selalu merayakan peristiwa itu dengan membeli eskrim. Aku selalu memilih es krim coklat. Ayah selalu memilih yang vanila. Setelah menerima kembalian dari penjual eskrim. Ayah selalu menunjukkan beberapa keping koin kembalian itu kepadaku. “Sampai di rumah, kita isi botol itu lagi.”

Ayah selalu menyuruhku memasukkan koin-koin pertama ke dalam botol yang masih kosong. Ketika koin-koin itu jatuh bergemerincing nyaring, kamu saling berpandangan sambil tersenyum . “Kau akan bisa kuliah berkat koin satu penny,nickle,dime,dan quarter, ” katanya. “Kau pasti bisa kuliah. Ayah jamin!”

Tahun demi tahun berlalu. Aku akhirnya memang berhasil kuliah dan lulus dari universitas dan mendapat pekerjaan di kota lain. Pernah, waktu mengunjungi orangtuaku, aku menelepon dari telepon di kamar tidur mereka. Kulihat botol acar itu itu tak ada lagi. Botol acar itu sudah menyelesaikan tugasnya dan sudah dipindahkan entah ke mana. Leherku serasa tercekat ketika mataku memandang lantai di samping lemari tempat botol acar itu biasa di letakkan.

Ayahku bukan orang yang banyak bicara, dia tidak pernah menceramahi aku tentang pentingnya tekad yang kuat, ketekunan, dan keyakinan. Bagiku, botol acar itu telah mengajarkan nilai-nilai itu dengan lebih nyata daripada kata-kata indah.

Sebenarnya masih banyak tulisan lepas ini. Namun satu hal yang bisa kita ambil sekecil apapun nilainya jika kita percaya bahwa nilainya akan menjadi besar maka akan menjadi besar.

Semoga bermanfaat 🙂