One Letter for Santa Claus Part 2 ….

Pandangan Kenedy yang merindukan sosok seseorang itu, membuat Janet tak kuasa untuk segera memeluknya. Gerakan pelukan yang hangat itu segera mendekap erat anak lelaki bermata biru langit itu. Kenedy akhirnya mulai membuka mulut mungilnya, dan berkata “Mami, Aku merindukannya…” dengan suara yang lirih tapi tepat di telinga Janet.

Suara Kenedy yang samar-samar itu namun memiliki kedalaman  seluas samudera membuat Janet tak kuasa menitikkan air matanya.  Janet dan Kenedy masih dalam posisi berpelukan, jemari Janet yang Lentik mengusap perlahan rambut Kenedy yang berwarna keemasan. Pelukan hangat itu bertahan selama kurang lebih lima menit. Janet berusaha menghibur Kenedy di hari ulang tahunnya itu. Janet melepaskan pelukannya dan segera menatap jagoan kecilnya itu dan berkata, “Ken, kamu percaya mamikan? Sebentar lagi kita akan merayakan natal bukan? Bagaimana jika kamu menuliskan sesuatu untuk santa Claus…”

Kenedy yang awalnya cemberut itu, tiba-tiba mengeluarkan senyuman simpulnya, dua lesung pipi kini terpatri kembali di wajah gembilnya. Kenedy pun menjawab, “Baik, mom aku ingin menuliskan permohonan di dalam surat  untuk mami…. Apakah boleh? ” , tanya Kenedy sambil memegang erat jemari sang ibu.

“Tentu saja boleh Kenedy “, jawab Janet dengan senyuman yang merekah. Sontak suasana hati Kenedy kini berubah menjadi lebih baik. Kenedy pun bisa tersenyum kembali, hal itu mengobati rasa kekhawatiran Janet ketika memandang wajah Kenedy yang penuh pengharapan akan hadinya sosok seseorang di dalam pesta ulang tahunnya. Kenedy pun sudah lebih ceria, dia kini berlarian bersama teman-teman sebayanya dalam pesta ulang tahun yang diselenggarakan Janet untuk anaknya itu.

Janet hanya memandangi Kenedy yang tertawa, bercanda, memakan-makanan yang ada di dalam pesta ulang tahunnya. Hal itu cukup membuat Janet menjadi lega, karena kebahagiaan Janet adalah senyuman anaknya, karena kebahagiaan Janet bukanlah kemewahan pesta yang dia selenggarakan tapi keceriaan Kenedy yang kini muncul pada pesta itu menjadi pusat kebahagiaan Janet.

Pesta ulang tahun Kenedy akhirnya selesai, yang tersisa kini hanya remah-remah makanan yang tersisa di taman, serta tumpukan kertas glitter yang berserakan di mana-mana, hiruk pikuk keramaian pesta sudah berakhir. Sekarang hanya beberapa pelayan yang membersihkan sisa-sisa peninggalan pesta berupa sampah, tempat makan, gelas, piring, botol minuman, cangkang permen yang kini memenuhi taman.

Pelayan-pelayan itu dengan gesit membereskan semua sampah yang berserakan, trash bag besar mereka boyong ke seluruh penjuru taman sebagai tempat sampah yang mereka bawa-bawa ke setiap penjuru taman yang di dapati ada sampahnya. Kenedy berlarian menuju kamarnya, membawa seluruh hadiah yang ia dapatkan dari teman-teman sebayanya.

Tangannya yang belum cukup kuat, berusaha membawa seluruh harta benda barunya itu ke arah kamarnya. Janet hanya tertawa kecil melihat tingkah anaknya yang meloncat-loncat kegirangan ketika menggiring hadiah-hadiahnya itu ke dalam kamarnya.

Energi Kenedy sepertinya tak habis-habis, walaupun sudah larut malam. Ya, janet memandangi tangan kanannya yang bergelangkan jam silver yang biasa ia kenakan itu. Kini sudah pukul 21.30 waktunya Kenedy untuk membersihkan dirinya dengan bergegas mandi dan segera pergi ke alam mimpi kanak-kanak yang penuh dengan imajinasi dan khayalan.

“Ken, sayang.. buka kadonya besok lagi ya. Sudah larut malam waktunya kamu untuk beristirahat my boy “, Janet yang mendekat dan mulai membereskan mainan yang baru saja Kenedy dapatkan dari hadiah ulang tahunnya itu.

“Oke Mami..”, jawab Kenedy singkat.. karena Kenedy pun sudah terlihat mulai mengantuk, matanya sudah lima watt…

Kenedy pun segera beranjak ke tempat tidur setelah membersihkan diri dan berganti pakaian menjadi piyama bergaris-garis. Kenedy pun tiba-tiba berkata kepada Janet, “Mami… Besok aku mau buat surat untuk Santa Claus ya… Aku hanya ingin menulis satu surat saja buatnya.. Nanti mami boleh baca sebelum aku kirim ke dia ya.. ” Kenedy tidak memberikan kesempatan kepada Janet untuk menjawab ia atau tidak. Kedua bola matanya yang bulat itu terpejam dengan sendirinya setelah satu kalimat terakhir.

Tentang surat yang akan Kenedy tulis One Letter For Santa Claus (bersambung)

 

Iklan

One Letter for Santa Claus PART 1….

New Zealand, 20 Desember 2012

new zealand

Salju itu berterbangan, bagaikan gulali putih yang siap ditangkap. Hari ini adalah hari ulang tahun Kenedy yang ke sepuluh tahun.Banyak tamu yang datang menghadiri pesta kecil-kecilan yang diselenggarakan di taman belakang rumahnya itu. Sang mama Janet memberikan banyak kado kepada anaknya. Namun, entah mengapa Kenedy masih nampak murung, kemilau senyuman yang biasa terpancar tak terlihat di hari peringatannya itu.

Kenedy hanya duduk sendiri dan menepi di pojokan taman rumahnya. Sang ibu, Janet masih sibuk menerima tamu yang berdatangan ke rumahnya itu. Janet begitu gembira dengan kedatangan banyak orang yang datang membawakan banyak hadiah untuk anaknya tercinta. Namun kebahagian yang dialami Janet, tidak tersirat sedikitpun diwajah merah Kenedy.

Janet masih sibuk dengan kado-kado yang baru saja ia terima, kedua tangannya penuh dan memeluk berbagai bingkisan yang terbungkus dengan rapi dan indah. Janet mencoba mencari tempat untuk menyimpan kado-kado yang baru saja ia terima dan berapa tamu undangan. Janet melihat meja di dekat air mancur itu tidak terlalu penuh, hanya berisi gelas-gelas kosong yang belum terisi air minum. Janet pun berjalan menuju arah meja yang ia anggap bisa menjadi tempat untuk menaruh kado-kado nan ramai itu.

Setelah ia selesai merapikan kado-kado itu menjadi tumpukan yang rapi di pojokan meja beralaskan taplak berenda itu, kini pandangan Janet menyebar ke seluruh penjuru taman mencari sesosok yang seharusnya terlihat sedari tadi. Ya ! Seharusnya Janet melihat Kenedy sedang asik bermain dengan teman-teman yang hadir dalam pesta ulang tahunnya, namun kenyataannya berbalik 90 derajat.

Kenedy sedang murung di pojokan taman dengan kedua tangan menopang kedua pipi yang berbentuk seperti buah persik itu. Janet pun menghampiri anaknya itu, langkahnya perlahan tetapi pasti mendekat ke arah anak lelaki semata wayangnya itu.

Dibelainya rambut keemasan milik Kenedy, dengan gerakan yang sedikit memanjakan anaknya. Janet memeluk badan mungil Kenedy “Hai , darling kenapa kamu sendiri disini ? Kok murung sih ? ”

Kenedy masih saja diam, tak berkutik sedikit pun dan tempat duduknya. Sang ibu masih berusaha membujuk anaknya.. Digapainya dagu kecil Kenedy dan tatapan sang Ibu dan anak saling bertemu. Janet memandangi kedua bola mata berwarna biru itu.

“Ken, kamu kenapa sayang ? Di hari specialmu ini mengapa kamu bersedih? Apa kado dari mama masih kurang nak?” tanya Janet dengan  lirih.

Kenedy hanya memandang wajah cantik ibundanya tanpa berkata apapun. Namun pandangan Kenedy seperti memohon sesuatu kepada Janet. Akhirnya Janet pun menyadari bahwa anaknya itu sedang merindukan sosok lain.

Tiupan Angin Pembawa maut PART 1

Hembusan angin itu bertiup perlahan mendekat ke arah wajah Dina, kala itu Dina sedang asik online di account facebook miliknya. Hembusan angin itu terasa tidak perlahan lagi, kini tiupan angin itu terasa seperti badai yang datang ke arah wajahnya. Rambutnya yang hitam pekat itu sontak berantakan seketika.

Ya, jendela kamarnya tiba-tiba terbuka oleh tiupan sang angin yang lebih kencang dari biasanya. Tanpa menaruh curiga Dina pun berjalan perlahan dan dengan gemulainya berjalan lurus kearah jendela yang terbuka itu. Dina hendak menutup jendela kamarnya itu, namun pandangannya menyebar keseluruh area pekarangan rumahnya. Kamar tidur Dina berada tepat di depan halaman kecil yang ditumbuhi beberapa jenis bunga. Ada bunga bakung, edelwies, dan mawar merah.

Namun ada hal yang mengganjal, dari kejauhan tak terlihat bunga-bunga bakung dan mawar-mawar merah itu merekah. Bahkan bunga-bunga itu seperti tertutup gembolan besar dan menghancurkan seluruh keindahan bunga-bunga itu.

Dina ingin memastikan ada apa di pekarangan rumahnya? Siapa yang berani menaruh gembolan besar itu disana ?

Dina pun kembali ke meja belajarnya, diambilnya jam tangan berwarna jingga itu, jarum panjang menuju angka 12 dan jarum pendek berada tepat diangka 12.

Kedua kelopak mata Dina tiba-tiba teralihkan ke objek lain… Ya ! Kalender yang menempel di tembok kokoh bercat hijau itu. Hari ini, ternyata tanggal 12 Desember 2012. Tanggal yang cukup fenomenal dan banyak orang berfikir bahwa tanggal ini menjadi hari kiamat bagi umat manusia. NAMUN faktanya TIDAK.. Dina dengan senyum ala nyengirnya itu berkata “Ternyata ga jadi KIAMAT nya…”

Setelah dina merasa banyak aktifitas yang mengalihkan niatannya untuk pergi keluar memastikan gembolan besar yang menghancurkan seluruh bunga-bunga yang telah ia rawat bertahun-tahun, ia berjalan dengan yakin dan pasti ke luar kamarnya menuju pintu keluar rumah.

Ketika Dina hendak memegang daun pintu, keraguan dalam dirinya muncul “Gw mesti keluar ga yak tengah malem gini… Kok jadi horor gini…”

Dina sempat mematung di depan pintu putih yang tingginya lebih dari dua setengah meter. Tidak lama ia mematung, Dina meyakinkan dirinya untuk pergi keluar rumah dan segera ke arah pekarangan rumahnya itu…

Dengan sangat perlahan dan hati-hati ia memutar kunci kearah berlawanan arah jarum jam.. Dina berusaha membuka pintu yang terkunci rapat dengan suara yang teredam sunyinya malam.

Dina agak sedikit berkeringat, karena ia menahan segala kekhawatiran dalam dirinya, ia khawatir ada yang terbangun ketika ia membuka pintu besar itu. Namun usahanya itu berbuah keberhasilan.. tidak ada satu pun penghuni rumah yang terbangun. Kunci pun terbuka, dan bunyi “klik” ketika pintu terbuka tidak terdengar menyeruak ke permukaan heningnya malam di rumahnya itu.

Perlahan ia memutar katup yang tergantung di daun pintu, ia membuka pintu dan menutupnya kembali rapat-rapat.

Tak jauh dari pandangan matanya, ada dua orang yang tidak di kenal baru saja pergi dari arah pekarangan rumahnya.

Dina mencari spot untuk bersembunyi, ia takut kedua orang itu jika memergokinya melihat mereka berdua, Dina bisa saja di culik atau disekap. Di kepala Dina sudah banyak terkontaminasi cerita-cerita misteri yang selalu ia tonton di bioskop.

Maklum, Dina adalah seorang gadis yang baru saja menginjak usia tujuh belas tahun. Pastinya terlalu banyak berimajinasi jika melihat film misteri yang sering ia saksikan.

Dina mendapat spot yang cukup bagus, walaupun ia sedang bersembunyi. Pandangannya dapat menyebar ke segala arah,termasuk ke arah dua orang yang berjalan mengendap-endap hendak meninggalkan pekarangan rumahnya.

Samar-samar Dina melihat kedua orang tersebut. Semuanya serba hitam, serba tertutup bahkan kedua wajah orang-orang tersebut tak nampak terselimuti kain hitam layaknya cadar yang hanya menampikan kedua bola mata dari setiap orang itu.

Kedua orang itu akhirnya lenyap dari permukaan pekarangan rumah Dina, Kedua orang tersebut dimata Dina seperti ninja yang dengan cepat bersatu dengan gelapnya malam dan menyebar seperti asap dan tak terlihat kembali.

Setelah Dina yakin, kedua orang yang mencurigakan itu benar-benar tidak ada. Kini saatnya Dina pergi ke pekarangan rumahnya dan memeriksa gembolan besar yang sekarang ada di depan taman bunga yang sangat ia sukai dan selalu ia rawat.

Dina melangkah dengan hati-hati ke arah taman bunga itu, langkahnya terburu-buru, ketika gembolan besar itu memperlihatkan hal yang sangat ganjil. Ya gembolan itu, bukan gembolan biasa ! Gembolan itu tidak tertutup rapat ada segumpalan rambut yang terlihat keluar.

Dina semakin penasaran, langkah kakinya semakin melebar dan dipercepat. AKhirnya ia tiba di tempat tujuannya, taman bunga itu. Gembolan itu panjang dan sangat besar, dan sepertinya isinya bukan sampah. Gembolan itu ternyata lebih menyerupai sleeping bag yang sering kita gunakan di kala kita sedang camping.

Ada semacam restleting panjang di tengah gembolan itu dan gumpalan rambut itu ternyata benar ! Dina merasa sangat ketakutan.. keringat dingin semakin mengucur ke arah dahi dan wajahnya sekarang bersimbah keringat…

“Aduh gimana dong? Beneran ini mayat apa ya? ” sambil menggigit jari dina berusaha menenangkan dirinya.

“Apa ini mesti gua buka ? ”

Dina masih bertanya-tanya dan ini memang mayat sungguhan yang ada di taman bunga miliknya…Tiupan angin malam semakin kencang dan semakin menusuk ke seluruh permukaan kulit epidermis miliknya.

Tiupan angin malam ini membawa maut bagi sang korban. Korban yang masih belum Dina pastikan siapa di balik gembolan tersebut…

Dina masih saja kebingungan, dia mengacak-acak rambutnya yang panjang terurai itu. Banyak keraguan dalam dirinya untuk membuka isi gembolan yang jelas-jelas memang ada mayatnya.

CINTA ITU JOROK ! Part 1

Takdir, cinta, semuanya sudah tertulis percaya ataupun tidak percaya semua itu sudah ada jalannya. Dua insan saling jatuh cinta dan bertemu itu sudah wajar, tetapi saling mencintai dan bisa saling memiliki adalah suatu hal yang langka. Dua sejoli bisa saling menyatu dan memperjuangkan cinta mereka terkadang sangatlah sulit jika di dalam perjalanannya terhambat dengan ratusan rintangan yang telah menghadang. CInta dan jodoh itu “Jorok”, Mengapa jorok ? Karena Cinta dan jodoh itu bisa terjadi dimana saja, kapanpun, tanpa orang bisa menyangkanya. Seperti halnya Emily seorang gadis yang baru saja memulai fase kehidupan yang baru, dimana ia sekarang sudah mulai bekerja. Tidak hanya karir saja yang dia mulai tetapi suatu cerita cinta.

Cerita cinta dimulai dari suatu pertemuan, Ya pertemuan yang tidak dia sangka…

Suatu ketika di kantor…….

Ya..seperti biasa Emily pergi kekantor, rutinitasnya sebagai karyawan swasta sangatlah padat. Maklum ini masa – masa pembelajarannya sebagai karyawan baru.

“Begini nasib ya. Jadi mahasiswi yang baru lulus dan baru bekerja tiap hari dibuat pusing @_@ [ekspresi wajah pusing]. ” Emily berkata sambil menggaruk-garuk kulit kepalanya dan membuat rambut lurus rapinya itu berantakan tak beraturan.

Emily cukup kesulitan dengan kegiatan barunya itu, memang dia gadis yang cukup pandai, tetapi untuk yang satu ini dia merasa seperti orang terbodoh sedunia jika melakukan pekerjaan ini. Emily bekerja sebagai programmer. Apa itu programmer ? Programmer adalah suatu pekerjaan yang bisa dikatakan menghabiskan banyak waktu untuk berfikir seharian, menterjemahkan isi dalam otak menjadi code-code yang bisa diimplementasikan melalui bahasa pemrograman yang ada.

Mungkin untuk orang awam yang tidak pernah terlibat di dunia IT akan sangat aneh mendengar profesi yang satu ini.

Ketika Emily masih sibuk dengan tugasnya dan kegiatan menggaruk-garuk kulit kepalanya bukan karena gatal tetapi karena kesulitan mengerjakan pekerjaannya itu. Tiba-tiba ada sesosok pria berpostur tubuh tidak terlalu tinggi dan badannya cukup atletis mendekati Emily dan berkata “Hey Emily …nikmatilah masa pembelajaranmu…ini kan masih masa training…katanya pengen jadi programmer sejati ” . Sosok itu adalah Pa Zenya trainer di perusahaan tempat Emily bekerja. Emily sedikit terkejut ketika melihat Pa Zenya sudah berada tepat di samping kiri meja kerjanya. Dengan agak malu, dan wajah yang sudah berubah warna menjadi merah padam, Emily pun menjawab “Eh, ada Pa Zenya…Emily jadi malu, hehehe..” sambil tersenyum masam.

Dalam otak Emily hanya satu kata yang terbersit “Ya Tuhan, tidak mudah ternyata menjadi seorang programmer” dengan gerakan tubuh semakin lunglai, Emily mulai kembali mengerjakan tugasnya. Well tugas hari ini memang lumayan sulit walaupun ini masih tahapan training, Emily butuh banyak untuk paham dan benar-benar mengerti. Suasana di sekitar Emily masih saja sama seperti hari-hari training sebelumnya.

Ya.. Suasana yang hening selalu menyelimuti ruangan besar dengan suhu ac 25 derajat… tidak terlalu dingin tapi lumayan sejuk dan nyaman. 

Hari ini ada kabar burung beredar, kabarnya akan ada “barang baru” di kantornya itu. Emily cukup penasaran dengan barang baru yang akan segera singgah di kantornya itu. Di ruangan besar bercat putih pucat berderet meja- meja yang sudah terisi oleh para peserta training. Di sebelah meja Emily ada teman sebangkunya bernama Donz. Donz lelaki muda dengan perawakan tinggi, kurus dan berkacamata. Donz semasa training adalah orang yang cukup berjasa dalam perkembangan training Emily.  Emily bertanya banyak hal kepadanya mulai dari bagaimana cara membuat tampilan yang menarik dan lain sebagainya. Terkadang Donz juga bertanya tentang database dan seperti apa relasinya. Cukup rumit memang, tetapi kedua manusia ini tidak menyerah begitu saja. 

Dalam suasana hening, tiba-tiba Emily menarik-narik lengan Donz dan mulai membuka topik pembicaraan “Donz, aku mau tanya dong..”. Donz yang sedang asik mendengarkan lagu dari headset berwarna hitam pekat itu, dengan perlahan membuka headset dari telinga kirinya..”Mau nanya apa non.. Aku lagi kagok nih kerjain form registrasinya..” 

Emily yang menggeser kursi chitosnya ke arah tempat duduk Donz dan mulai berbincang-bincang dengan suara yang lirih.”Aku denger ada gosip.. hihihi.. katanya ada barang baru di kantor. Barang baru apa? Aku pengen tahu..”

Donz yang masih mengetik-ngetikpun berkata “katanya ada meja bilyard nanti..”

Sorot mata Emily yang awalnya letih sontak berubah menjadi riang gembira karena mendengar akan ada meja bilyard. Dengan mata yang berbinar-binar, Emily menggoncang-goncangkan tubuh Donz..

“Wah serius Donzz. Asik… ” Ruangan yang awalnya hening itu berubah menjadi gaduh hanya dengan suara teriakan Emily yang sontak mengagetkan seluruh penghuni ruangan itu.

 tobe continued 

Misteri Kematian Sonya Part 1

Pita berwarna kuning itu membentang panjang, menutupi gerbang PT .Hikaru IT Foundation. Suasana yang tidak terkira itu membuat Kim menghentikan langkahnya tepat di garis polisi itu. Di depan gerbang itu, sudah banyak karyawan lain yang berdiri disana. Mereka semua terkejut dengan peristiwa yang sekarang sedang diselidiki oleh para petugas keamanan setempat. Dari arah kanan Kim, suara seorang gadis yang berteriak histeris setelah mendengar temannya berbisik di telinganya yang mungil itu. Sontak, sang gadis berteriak “GA MUNGKIN, itu pasti bukan SONYA!” tubuh gadis yang tingginya tidak mencapai 160 terjatuh lunglai serasa kabar yang ia dengar tadi menusuk seluruh tubuhnya dengan beribu jarum akupuntur yang membuatnya tidak bisa bergerak dan kaku. Gadis itu hanya bisa menangis.

Dalam hati Kim hanya bisa berkata “Sonya? Kenapa dengan dia.” Tubuhnya menjadi memanas ketika mendengar nama Sonya. Sonya adalah salah satu gadis yang ia kenal di kantor itu. Kim menjadi sangat penasaran, ia berusaha menggabungkan seluruh clue yang baru saja ia dengar. Gadis mungil itu tiba-tiba histeris sambil berkata tidak mungkin dan ada garis polisi melintang di depannya. Sambil mengelus-elus dagunya Kim terus berfikir dan sebenarnya ia tidak ingin menduga hal ini “Jangan-jangan…”. Di saat ia mengelus dagunya, suara besi yang saling bersinggungan, Ya.. suara pintu gerbang yang masih bersegel garis polisi itu dibuka oleh seorang polisi yang berbadan cukup tambun dan di bagian kiri kemejanya ada nametag bertuliskan “Zia Nugraha”. Tak berfikir panjang, Kim pun berusaha mendekat ke arah polisi itu.

Polisi itu memunggungi Kim, dengan segera Kim menepuk bahu sang polisi itu dan berkata “Selamat pagi , Pa Zia bisa kita bicara sebentar?” Polisi itu membalikkan badan dan menjawab pertanyaan Kim “Bisa.” jawab Pak Zia dengan senyuman tipis. Kim sedikit kesulitan untuk membuka percakapan dengan Pa Zia. Akhirnya Kim pun membuka percakapan dengan menyodorkan tangan kanannya tanda ingin berjabat tangan “Perkenalkan Pa. Saya Kim, saya yang bekerja disini. ”. Tanpa menaruh rasa curiga polisi itu menyambut perkenalan itu dengan ramah “Oh, Anda Kim. Perkenalkan saya Zia. Sepertinya anda sudah tau nama saya dari nametag yang menempel ini ” jawab Pa Zia sambil tertawa renyah.

Rasa ingin tahu Kim sudah tidak bisa dibendung lagi, rasanya ingin memecahkan tanda tanya besar yang ada di kepalanya, tentang garis polisi dan Sonya. Dengan air muka yang serius dan pandangan yang menatap lurus-lurus kepada Pa Zia, Kim memulai angkat bicara “Sebenarnya ada kejadian apa Pa? Mengapa kantor kami di beri garis polisi ?” Pa Zia membalas dengan tatapan yang cukup serius dan ia berusaha menjelaskan duduk perkaranya “Begini Kim, di kantor ini baru saja ditemukan jenasah gadis muda. Gadis muda ini bernama Sonya. Ia tewas di kantor ini dan masih sedang diselidiki siapa dalang dibalik pembunuhan Sonya. ” Wajah Kim tiba-tiba pucat dan tubuhnya mulai mematung dan ia seperti bermimpi buruk ketika mendengar Sonya telah tiada. Gadis periang dan cukup bijaksana dalam mengambil tindakan harus mati secara tidak wajar. Sonya itu dibunuh. Rasanya lemas mendengar salah satu teman terbaiknya di kantor “TERBUNUH”. Tidak sadar Kim meneteskan air mata. Kim merasakan adanya sesuatu yang mengalir di pipinya dan terasa hangat. Well, itu benar-benar air mata yang keluar dari ketulusan hatinya karena kehilangan sesosok sahabat yang menurutnya tidak pantas meninggal dengan cara yang tidak wajar. Pa Zia yang melihat Kim berubah menjadi sangat sedih dan terpukul karena peristiwa yang baru saja didengarnya itu berusaha menenangkan Kim “Kim, sabar ya. Saya akan berusaha mencari jejak sang pembunuhnya. Jadi jangan sampai kamu berfikir untuk membalas dendam atau perbuatan bodoh lainnya.”, pa Zia menegaskan.

Kim yang masih meneteskan air mata tanda ia berduka segera mengusap-usap air mata yang masih tersisa di pipinya. Kim dengan sedikit terisak menjawab “Pa Zia, saya juga akan berusaha menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi. Saya sangat tidak menyangka kejadian ini menimpa sahabat saya sendiri. ”. Kim mulai meneteskan air mata lagi, dan rasanya tidak bisa memendung semua itu. Pa Zia hanya mengangguk mendengar jawaban Kim. Pa Zia berlalu, kali ini Kim hanya bisa memandangi punggung besar itu tanpa dapat bisa memandang wajah pria paruh baya itu. Seluruh petugas keamanan yang tersebar di seluruh penjuru kantor meminta seluruh karyawan untuk segera meninggalkan area perkantoran karena akan diadakan penyelidikan lebih lanjut.

Kala itu satu persatu karyawan PT. Hikaru meninggalkan area perkantoran. Dari kejauhan sekitar seratus meter. Kim masih mengawasi keadaan di kantor. Seperti ucapannya yang ia utarakan kepada Pa Zia, ia bersikukuh untuk menyelidiki kejadian yang sebenarnya terjadi dikantornya. Sambil meneguk secangkir latte hangat. Kim mengawasi kantor dari balik kaca coffe shop. Satu kalimat yang terucap sebelum ia meneguk kembali minumannya “Sonya, aku akan cari tahu semua demi persahabatan kita. Percayalah..”

Sudah lima jam lebih Kim berada di dalam coffee shop, tetapi tidak ada tanda-tanda yang membuka tabir misteri pembunuhan Sonya. Kim sedikit kecewa karena pengintaiannya terasa sia-sia dan tidak membuahkan hasil. Satu sisi ia sangat merasa bersalah kepada Sonya. Sehari sebelum kejadian, Kim dan Sonya sempat bercakap-cakap dan Sonya meminta untuk pulang bersama. Kim masih ingat ketika Sonya berkata “Kim, temenin gw ya, dikantor gw mesti lembur dan gw males kalo gw pulang sendiri. Lo tau sendiri kan kantor kita? Gede nya udah ngelebihin bagong.” . Kim memukul dahinya dengan kepalan tangannya berulang kali “Duh, gw bodoh banget. Kenapa sih gw pake acara ngantuk dan milih pulang ga nemenin Sonya buat…”

Akhirnya Kim berhenti memukul dahinya dan segera mengeluarkan agenda kerja yang ada di dalam tas berbentuk persegi panjang, Cepat-cepat Kim membuka restleting bagian depan, mengambil agenda dan pulpen berwarna hitam. Kim membuka agendanya, ia mulai mencari halaman kosong. Ditemukannya halaman agenda yang masih bersih dan tidak ada torehan tinta sedikitpun. Kim memutuskan untuk menulis

Pembunuhan Sonya , 2 Desember 2012

Clue yang baru gw dapet di hari ini adalah Sonya terakhir bilang sama gw, bahwa dia mau lembur di kantor. Dan gw mesti cari tahu lagi Sonya lembur untuk kerjaan apa? Dan hari ini gw udah duduk anteng sekitar 5 jam buat ngawasin kantor dan anyway.. Gw belum ngeliat tanda-tanda apapun.

Pembunuhan Sonya ini masih menjadi misteri. Orang sebaik dia masa ada yang tega untuk membunuhnya dengan cara yang cukup kejam. Kim tidak habis pikir dengan kejahatan yang menimpa teman baiknya itu. Diingatan Kim, ia hanya bisa mengingat kebaikan Sonya ketika Kim pertama kali datang kekantor itu dan dia sama sekali tidak fasih berbahasa Jepang dan yang mengajarinya adalah Sonya. Sonya pernah berkata kepada Kim “Kim, lo tuh pasti bisa bahasa Jepang… pulang kantor gw ajarin lo ya. Kita ke Cofee Shop deket kantor aja. Kita belajar dari awal disana ya.” Secara tidak sengaja tempat duduk yang dipilih Kim dan minuman yang telah habis adalah hal-hal yang disukai oleh Sonya. Latte dan spot duduk ini.

Oh God, Sonya Rest in peace ya..” Kim berbisik sendiri.

Hari sudah semakin larut dan tubuh Kim sudah sangat lelah. Ia memutuskan untuk pulang saja kekosannya. Penyelidikannya hari ini. Ia akhiri.

Hari ini 3 Desember 2012, kantor ternyata masih diliburkan. Pihak HRD memberikan email kepada seluruh karyawan bahwa kantor akan diliburkan selama satu minggu. Kim merasa senang karena kantor libur. Tandanya ia lebih leluasa untuk melakukan penyidikan selanjutkan dan mengumpulkan rangkaian clue. Tapi apakah dalam waktu cuman seminggu misteri pembunuhan Sonya bisa terungkap? Pertanyaan itu sempat terlintas di kepala Kim. Namun Kim tetap berusaha sebisa mungkin agar peristiwa ini cepat terungkap. Kim memasang strategi dalam melakukan penyidikan yang ia lakukan secara ilegal ini. Ya.. ini ilegal. Kim bukanlah seorang detektif ataupun aparat keamanan. Dia hanyalah seorang pegawai swasta yang bekerja sebagai salah satu programmer di perusahaan itu.

Tetapi untuk kondisi sekarang, Kim merasa ia bisa berubah seperti detektif Conan yang dapat menyelidiki perkara apapun dalam wujud tubuhnya yang mungil. Mungkin Kim tidak bisa mengubah tubuhnya yang atletis dan tinggi itu menjadi mungil. Namun peranannya sebagai penyidik adalah fokus utama dalam menyelesaikan misteri pembunuhan sahabatnya itu.

Layaknya seperti seorang detektif Kim memakai sunglasses hitam keluar dari kosannya itu. Kali ini ia tidak mengintai kantornya yang berada di bilangan jalan Karapitan. Kim memutuskan untuk pergi ke tempat lain. Dengan menggunakan motor bajaj 135 cc itu, ia melesat kencang bagaikan citah yang sedang berlari membelah jalan raya. Kali ini jalanan sepi. Kim menambah kecepatan motornya biasanya ia hanya mengendarai di kecepatan 60 km/jam. Pikirnya mumpung jalanan sepi, ia menambah kecepatan motornya menjadi 100 km/ jam. Tingkah Kim sudah bukan seperti pengendara biasa, jika sudah mengontrol kecepatan tinggi, well sepertinya Valentino Rossi bisa ia tantang.

Kim terus melaju dengan kencang. Dari jalan Karapitan, ia menuju ke arah jalan Sunda. Setelah melewati jalan Sunda agak sedikit tersendat karena banyak pejalan kaki dan angkutan umum yang bertumpuk di depannya. Kim tengah berada di jalan Riau. Di jalan Riau banyak rentetan Factory Outlet yang berjejer dan banyak para lovers yang hobi berbelanja lalu lalang disini, membuat kota Bandung sedikit macet karena kehadiran mereka. Kali ini Kim tidak bisa berlaga menjadi seperti pembalap ia harus rela mengurangi kecepatan motornya menjadi 20 km/jam di jalanan itu. Sambil menyetir Kim sesekali melihat ke arah pergelangan tangan kirinya, melihat arah arum jam menunjuk ke angka sepuluh. Dengan logat koreanya ia bergugam dengan menggunakan bahasa Jepang. “Ah. Bakka..harusnya gw berangkat lebih pagi. ”

Akhirnya Kim melewati jalanan yang dipenuhi oleh para pencinta fashion itu. Tak pikir panjang Kim melaju dengan kencang menuju ke arah jalan Jawa. Tidak kurang dari sepuluh menit, Kim tiba di depan kantor polisi. Dengan perlahan ia melepas sunglasses dan helm yang ia gunakan. Sunglasses hitam itu, ia masukkan ke saku jaket kulitnya sedangkan helm ia gantungkan di stang motornya. Butiran keringat membasahi dahinya, Kim mengelapnya dengan menggunakan tissue yang tersisa di saku kiri jaketnya itu. Ia berjalan kecil ke arah spion motornya, merapikan rambutnya yang lurus rancung itu. Wajah Kim yang tampan dan putih dengan mata yang tidak terlalu kecil menjadi pesona orang-orang yang lalu lalang di area parkir. Tidak dapat dipungkiri, wajah Kim memang rupawan. Kim selain berwajah rupawan badannya cukup atletis dan ada satu hal yang tidak kalah menarik wajahnya mirip dengan salah satu aktor Korea yang terkenal di Indonesia lewat serial “Full House”. Ya.. wajah Kim tidak kalah ganteng dengan Rain.

Kim merasa sudah cukup merapikan rambutnya, ia pun segera memasuki area kantor polisi. Kim mencari sesosok pria tambun paruh baya yang ia temui kemarin. Kim mencari Pa Zia Nugraha. Langkah Kim yang gagah dan tidak kalah seperti polisi yang ada di sekitarnya. Dengan senyum tipisnya, ia mendekati polisi yang tengah berjaga di pos. Dengan senyum tipisnya Kim mulai menyapa sang polisi jaga “Siang Pa!”. Sang Polisi itu pun menjawab “Siang Pa, ada yang bisa saya bantu ?” dengan nada yang cukup serius dan tegas. Kim yang sedikit kepanasan karena terik matahari siang itu agak memicingkan matanya itu dan melindungi pelipis matanya dengan menggunakan telapak tangannya seperti sedang melakukan prosesi hormat bendera padahal ia hendak melindungi area matanya yang silau karena matahari yang terlalu cerah di siang itu. “Ia Pa, Saya mencari Pa Zia Nugraha. Orangnya ada tidak didalam kantor ini? ”

Di jam yang sama namun berbeda situasi, Pa Zia sedang melihat bukti-bukti yang ia dapatkan kemarin. Ia melihat foto-foto Sonya. Foto Sonya yang sudah terbujur kaku. Wajah Sonya tidak rusak di foto itu, tetapi simbahan darah menggenangi jenasah gadis muda itu. Ada sekitar sepuluh foto yang sedang pa Zia pegang. Diantaranya adalah foto jenasah Sonya dalam berbagai angle dan foto-foto lainnya adalah foto-foto benda yang berada di sekitar TKP(Tempat Kejadian Perkara). Pa Zia mengamati satu persatu foto-foro itu. Ada satu foto yang sangat dicurigai pa Zia. Foto itu adalah salah satu foto benda yang berserakan di sekitaran TKP. Ada satu tumpukan kertas disana, namun di tumpukan kertas yang paling atas terdapat tetesan darah. Apakah itu darah Sonya? Sepertinya sang pelaku mencari suatu dokumen? Tetapi mengapa harus Sonya yang terbunuh. Pa Zia seperti sedang bermain teka-teki silang dalam memecahkan perkara ini. Kini ia baru mendapat satu clue yaitu tetesan darah pada dokumen. Dokumen seperti apa? Sehingga seorang sekretaris yang terkenal ramah dan gampang bergaul itu meregang nyawa. Pa Zia tetap menatap lurus-lurus foto itu, diambilnya spidol berwarna hitam yang ada di depannya, kemudian ia menandai gambar yang ia curigai. Selagi pa Zia melihat foto-foto itu, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu.

“Tok..tok ..tok”, tak lama suara ketokan pintu hilang diikuti suara seseorang yang berkata “Boleh saya masuk Pa ?” Pa Zia yang awalnya sedang sibuk mengamati foto menghentikan aktivitasnya dan sedikit berdehem kemudian pa Zia menyahut “Ia , silakan masuk!” dengan suara lantang. Ternyata yang mengetuk pintu ruang kerja Pa Zia adalah seorang polisi yang tadi ditemui Kim di pos depan. Nama lelaki muda itu Firman. Sebelum mulai percakapan FIrman memberikan hormat kepada sang atasannya itu, kemudian ia mulai membuka pembicaraan “Lapor, Pa ada yang ingin bertemu Bapa!” dengan suara yang lantang dan menatap pa Zia lurus-lurus. Pa Zia sedikit heran, sepertinya ia tidak sedang membuat janji pada pukul 11 siang. Pa Zia melihat ke arah jam dinding yang menempel di tembok berwarna putih pucat itu. Dengan nada tegas dan menatap Firman lurus-lurus, Pa Zia berkata “Sepertinya saya tidak ada janji jam segini. Siapa yang cari saya jam segini? ” . Firman yang masih menatap lurus-lurus dan dalam keadaan siap itu menjawab pertanyaan pa Zia “Tadi dia bilang namanya Kim. Sepertinya dia bukan WNI Pa. Wajahnya seperti orang korea walaupun bahasa Indonesianya fasih.”, tegas Firman. Pa Zia teringat sosok lelaki berkulit putih dan berbadan atletis di tempat kejadian perkara kemarin, tepatnya di gedung perkantoran PT. Hikaru. Dengan tidak banyak berfikir pa Zia meminta Firman menjemput Kim di depan “Firman, tolong jemput lelaki itu dan persilakan ia masuk kemari.” Jawab pa Zia sambil membolak balik kertas dokumen yang ada di hadapannya. Firman yang masih berdiri dengan sikap siap berkata “baik ,Pa.Akan saya jemput dan saya bawa ke ruangan ini.” Dengan langkah yang sempurna dan suara sepatu pantofel yang beradu dengan lantai, Firman melangkah keluar ruangan.

Tak lebih dari lima menit, Firman sudah membawa Kim ke dalam ruangan kerja Pa Zia. Posisi pintu masih terbuka oleh karena itu, Firman tidak mengetuk pintu, ia hanya memberi sinyal kepada pa Zia bahwa orang yang mencarinya sudah firman jemput. Gesture tubuh pa Zia meminta Firman untuk meninggalkan ruangan kerjanya. Dengan senyuman tipis Kim mengamati ruangan yang baru saja ia masukin. Banyak foto-foto pa Zia terpangpang disana. Mulai dari fotonya bersama sang presiden RI dan tidak kalah pentingnya ada banyak penghargaan yang menepel di tembok putih pucat itu. Tiba-tiba suara deheman pa Zia terdengar, dan Kim berhenti mengamati ruangan kerja yang minimalis itu. Pa Zia mencondongkan telapak tangannya mempersilahkan Kim untuk duduk di sofa hitam itu. “SIlakan duduk, Kim.” Pa Zia berkata sambil tersenyum tipis. Kim pun duduk di sofa hitam sambil melepaskan jaket kulit yang sedari tadi menempel di badannya. Selagi Kim masih sibuk melepas jaketnya, pa Zia mulai bertanya “Anda kesini ada apa ya?”. Kim yang masih sibuk sendiri itu, segera melipat secara asal jaketnya dan menaruhnya di sofa sebelah. Lalu ia mulai menatap serius ke arah pa Zia “Pa, mungkin ini terdengar sangat konyol, tetapi saya ingin bergabung dalam penyelidikan kematian Sonya Pa! Setidaknya saya adalah orang dalam perusahaan Hikaru dan saya bisa leluasa mengawasi gerak-gerik seluruh karyawan. ” masih dengan tatapan serius. Pa Zia yang masih menyilangkan kedua tangannya di dada itu mulai berfikir keras, bagaimana mungkin ia mengajak Kim, karena ini tidak sesuai dengan prosedur penyelidikan. Pa Zia terus berfikir dan ia tidak bisa memutuskan segala sesuatu secepat kilat. Walaupun ia pimpinan di kantor polisi ia harus memikirkan pros dan kons dari segala tindakan yang diambilnya. Pa Zia bukan polisi yang hanya bertindak sebagai oknum yang tidak bertanggung jawab, ia adalah figur pemimpin yang patut diacungi jempol. Pria paruh baya ini merasa belum bisa memberikan jawaban yang pasti kepada Kim pada saat itu. Kim masih memandang serius ke arah pa Zia. Tak sengaja Kim berkata dengan menggunakan bahasa Jepang “Dou desuka? Sensei…” kata Kim dengan polos. Pa Zia yang awalnya masih berfikir-fikir, tiba-tiba teralihkan oleh bahasa asing yang baru saja diucapkan Kim. Dengan nada tidak serius pa Zia berkata “Ngemeng apa sih lo?”. Sontak mereka berdua saling berpandangan dan tertawa terbahak-bahak. Suasana di ruangan itu terasa hangat oleh tawa mereka.

Kim keluar dengan wajah yang agak kusut dari ruangan kerja pa Zia itu, walaupun mereka tertawa terbahak-bahak bersama ternyata tidak membuat pa Zia segera memutuskan. Pa Zia masih berfikir dan ia meminta kepada Kim untuk menunggunya kurang lebih tiga hari. Kim berjalan kembali menuju tempat parkir dan ada satu hal yang ia lupakan, jaket kulitnya di sofa itu. Kim segera berbalik arah kembali menuju ruangan kerja pa Zia. Pa Zia sedang tidak berada di ruangannya, namun pintu ruangannya tidak tertutup sama sekali malahan terbuka lebar. Di sekitar pintu itu pun tidak ada seorang polisi yang berjaga-jaga. Kim merasakan dilema, ia ingin masuk ke dalam ruangan itu tetapi takut disangka tidak sopan jika nanti pa Zia memergokinya di satu sisi ia membutuhkan jaket itu karena ia ingin segera pulang dan makan siang karena ia belum makan di siang ini. Keraguannya untuk masuk ke dalam ruangan itu pun terpecahkan, perutnya semakin keroncongan jika ia tidak segera bertindak mengambil jaket yang ada di ruangan itu. Dengan gerakan yang cepat, Kim memasuki ruangan kerja pa Zia. Pandangan Kim tertuju kepada jaketnya yang terletak di atas sofa dan segera mengambilnya. Kemudian Kim memakai jaket kulitnya, selagi ia memakai jaket kulit seperti biasa pandangan Kim tidak bisa diam. Pandangannya menyebar ke seluruh ruangan hingga ada satu titik yang membuat pandangannya berhenti. Setumpuk foto yang terletak di atas meja yang menjadi pusat perhatian Kim saat ini. Ia mulai mendekat dan mengambil satu foto yang berada di tumpukan paling atas. Di foto itu ada tanda dengan menggunakan spidol hitam dan di foto itu ternyata ada tetesan darah dan Kim terus mengamati foto itu, di dalamnya terdapat foto dokumen dengan tulisan kanji yang samar-samar. Kim yang sudah mengerti kanji itu melafalkan arti kanji tersebut dalam bahasa Indonesia “Dokumen Rahasia. ”. Kim terheran-heran mengapa ada dokumen rahasia tergeletak di atas meja begitu saja. Apakah ini penyebab kematian Sonya, tetapi mengapa dokumennya tetap ada di meja Sonya yang biasanya tampak rapi namun di foto ini begitu berantakan dan banyak bercak darah. Kim tersadar ia tidak boleh berlama-lama di dalam ruangan kerja pa Zia, dengan langkah yang panjang dan lebar, ia pergi meninggalkan ruangan tanpa meninggalkan kecurigaan yang tersimpan di tempat itu. (to be continued )