Convenant

Saya akan membahas tentang convenant. Ketika saya menikah nanti yang saya akan buai itu adalah convenant atau ikatan ikat janji. Tidak mudah bersaksi di hadapan Tuhan dan membuat convenant dengan seseorang yang nantinya akan terus bersama untuk seumur hidup perlu pengertian tentang ikatan janji itu. Convenant/ ikatan ikat janji dalam bahasa Ibrani menggunakan kata berith yang berarti kalau 2 orang hendak membuat perjanjian mereka akan pergi ke Imam Besar dan membawa kurban untuk dikurbankan. Kurban itu akan dibelah menjadi dua dan membentuk jalur darah di tengah. Di jalur darah itulah tempat dimana perjanjian itu kemudian diikatkan. Setelah ada korban, baru perjanjian itu bisa diikatkan. Hal ini berarti tidak mungkin ada convenant tanpa pengorbanan.

Jika saya nanti menikah, menikah itu adalah convenant bukan kontrak seperti pegawai yang bisa habis setiap satu tahun sekali. Pernikahan itu adalah suatu hal yang lebih dari kontrak maka bisa disebut convenant. Pada saat saya menulis ini memang saya belum berkorban apa-apa karena saya belum memulai convenant itu. Tapi yang saya tahu dan yang ingin saya miliki adalah pernikahan yang saling mengikat dan saling mau berkorban satu sama lain. Dan ketika saya mengucapkan janji itu di atas altar itu convenant saya dan pasangan juga terhadap Tuhan.

Mungkin di era modern ini, dikala setiap orang terus berkompetisi untuk mengejar ambisinya mereka lupa akan convenant ini.
Sehingga berpengaruh terhadap kehidupan pernikahan dan akhirnya mereka memutuskan untuk berpisah. Padahal hal seperti itu sama saja melanggar convenant yang dahulu pernah diucapkan. Apakah seseorang mengingat convenantnya ketika mereka sedang dirundung duka? Apakah convenant itu mengingatkan mereka jika ada salah satu yang menyelingkuhi rasa cinta?

Sebenarnya semua ini sudah ada jawabannya. Dan convenant ini seharusnya mencambuk batin dan suara hati ketika mereka berfikir untuk mengakhiri hal yang sudah dipersatukan oleh Tuhan.

Saya akan membuat convenant hanya dengan pasangan yang pantas dan mampu berlari bersama saya selama-lamanya :). Wanita pada dasarnya membutuhkan pria yang mampu membimbing mereka. Saya yakin jika sang pria dapat membimbing dan wanita itupun dan menuntun sang suami…maka pernikahan itu akan kekal abadi.

Untuk era modern ini pernikahan yang seperti ini hanya bisa dihitung menggunakan jari. Dan beruntung saya mengenal keluarga Opa Louis dan Oma Betty… Angka pernikahan mereka yang sudah genap berusia 55 tahun menjadi inspirasi saya. Untuk terus bersama pasangannya sampai keriput, peot, ataupun saling tuli.

Beruntung saya hidup di keluarga Papa dan Mama saya yang hanya dipisahkan oleh maut ;).

Saya bersyukur untuk karunia yang seperti ini. Dan saya selalu ingin bisa ber convenant untuk satu kali dan selamanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s