Menulis dengan Rasa Yang Hampa

Ketika saya menulis atau tergerak ingin menulis atau bercerita. Rasanya akan berbeda. Ketika hati saya hampa ataupun resah karena pekerjaan saya. Tulisan saya tidak akan sama dengan tulisan saya ketika saya sedang jatuh cinta dan pekerjaan saya lancar-lancar saja.

Memang menulis itu bukan karena hanya bakat saja. Tetapi menulis itu merupakan obat terapi yang mujarab buat saya…Dulu saya pernah kehilangan setengah raga saya, entah si raga itu berjalan kemana…Tapi yang saya tahu menulis merupakan hal yang positif.

Setelah saya selesai menulis, hati saya lebih lega. Walaupun bukan sepenuhnya isi hati saya yang saya tulis disini. Jika pengalaman yang positif tertuang dan saya bisa bagi disini akan membuat orang lain yang membaca tulisan saya tahu bahwa tulisan saya berguna hal itu menjadi kepuasaan batin tersendiri buat saya.

Ketika hati saya hampa karena pekerjaan saya. Yang saya tahu, sebelum saya kekantor lebih baik saya menulis sebanyak-banyaknya agar saya rileks dan fokus ketika saya sampai di kantor.

Agak aneh memang, tapi daripada kita marah-marah sama orang atau membuat orang menjadi tidak nyaman karena perbuatan kita yang tidak ramah. Lebih baik menuangkan. Seluruh kekesalan kepada kertas putih yang anda miliki.

Saya juga sering membaca artikel atau pun buku. Dulu saya pernah membaca buku dengan judul “Grief Observed ” (kalau ga salah ketik ). Disitu dia menceritakan sebagai sisi orang pertama yang begitu sangat patah hati ketika kehilangan sang istri yang meninggal karena sakit. Disitu dia bukanlah pria pertama yang menjadi suaminya. Namun mereka dipertemukan kembali dalam suatu pekerjaan. Mereka sama-sama penulis dan berotak cerdas. Hidup mereka begitu bahagia walaupun mereka tidak bertemu di masa muda. Tetapi pria ini menerima segala kekurangan wanita yang ia cintai. Itulah mencintai bukan hanya diucapkan saja.

Ketika sang istri meninggal, ia merasakan kehampaan yang begitu mendalam dan ia tidak ingin hal itu terjadi terus menerus sehingga ia putuskan untuk segera menulis… Menulis dalam kehampaan ketika ia kehilangan belahan jiwanya. Itulah kekuatan seorang penulis. Menulis apapun dan pasti akan terus berusaha mengemas tulisannya menjadi paket yang luar biasa dan dapat dinikmati khalayak ramai…

Kali ini saya menulis dengan rasa hampa…. Rasa hampa ketika menemui segelintir pekerjaan yang membuat saya muak. Saya muak tetapi saya hanya ingin tetap menjalankan segala kemuakan saya dengan sebaik-baiknya. Saya bertindak sangat hati-hati karena sega atribut yang menempel pada saya. Saya lulusan sekolah terbaik selama ini. Jadi jangan sampai karena kehampaan saya dalam bekerja. Saya mengecewakan almamater saya. Selain itu saya tidak ingin mengecewakan keluarga saya ataupun lelaki yang selalu menemani saya dalam suka dan duka saya. Intinya ketika saya hampa. Saya menulis dengan kehampaan dan saya tidak ingin mengecewakan siapapun.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s