One Letter for Santa Claus Part 2 ….

Pandangan Kenedy yang merindukan sosok seseorang itu, membuat Janet tak kuasa untuk segera memeluknya. Gerakan pelukan yang hangat itu segera mendekap erat anak lelaki bermata biru langit itu. Kenedy akhirnya mulai membuka mulut mungilnya, dan berkata “Mami, Aku merindukannya…” dengan suara yang lirih tapi tepat di telinga Janet.

Suara Kenedy yang samar-samar itu namun memiliki kedalaman  seluas samudera membuat Janet tak kuasa menitikkan air matanya.  Janet dan Kenedy masih dalam posisi berpelukan, jemari Janet yang Lentik mengusap perlahan rambut Kenedy yang berwarna keemasan. Pelukan hangat itu bertahan selama kurang lebih lima menit. Janet berusaha menghibur Kenedy di hari ulang tahunnya itu. Janet melepaskan pelukannya dan segera menatap jagoan kecilnya itu dan berkata, “Ken, kamu percaya mamikan? Sebentar lagi kita akan merayakan natal bukan? Bagaimana jika kamu menuliskan sesuatu untuk santa Claus…”

Kenedy yang awalnya cemberut itu, tiba-tiba mengeluarkan senyuman simpulnya, dua lesung pipi kini terpatri kembali di wajah gembilnya. Kenedy pun menjawab, “Baik, mom aku ingin menuliskan permohonan di dalam surat  untuk mami…. Apakah boleh? ” , tanya Kenedy sambil memegang erat jemari sang ibu.

“Tentu saja boleh Kenedy “, jawab Janet dengan senyuman yang merekah. Sontak suasana hati Kenedy kini berubah menjadi lebih baik. Kenedy pun bisa tersenyum kembali, hal itu mengobati rasa kekhawatiran Janet ketika memandang wajah Kenedy yang penuh pengharapan akan hadinya sosok seseorang di dalam pesta ulang tahunnya. Kenedy pun sudah lebih ceria, dia kini berlarian bersama teman-teman sebayanya dalam pesta ulang tahun yang diselenggarakan Janet untuk anaknya itu.

Janet hanya memandangi Kenedy yang tertawa, bercanda, memakan-makanan yang ada di dalam pesta ulang tahunnya. Hal itu cukup membuat Janet menjadi lega, karena kebahagiaan Janet adalah senyuman anaknya, karena kebahagiaan Janet bukanlah kemewahan pesta yang dia selenggarakan tapi keceriaan Kenedy yang kini muncul pada pesta itu menjadi pusat kebahagiaan Janet.

Pesta ulang tahun Kenedy akhirnya selesai, yang tersisa kini hanya remah-remah makanan yang tersisa di taman, serta tumpukan kertas glitter yang berserakan di mana-mana, hiruk pikuk keramaian pesta sudah berakhir. Sekarang hanya beberapa pelayan yang membersihkan sisa-sisa peninggalan pesta berupa sampah, tempat makan, gelas, piring, botol minuman, cangkang permen yang kini memenuhi taman.

Pelayan-pelayan itu dengan gesit membereskan semua sampah yang berserakan, trash bag besar mereka boyong ke seluruh penjuru taman sebagai tempat sampah yang mereka bawa-bawa ke setiap penjuru taman yang di dapati ada sampahnya. Kenedy berlarian menuju kamarnya, membawa seluruh hadiah yang ia dapatkan dari teman-teman sebayanya.

Tangannya yang belum cukup kuat, berusaha membawa seluruh harta benda barunya itu ke arah kamarnya. Janet hanya tertawa kecil melihat tingkah anaknya yang meloncat-loncat kegirangan ketika menggiring hadiah-hadiahnya itu ke dalam kamarnya.

Energi Kenedy sepertinya tak habis-habis, walaupun sudah larut malam. Ya, janet memandangi tangan kanannya yang bergelangkan jam silver yang biasa ia kenakan itu. Kini sudah pukul 21.30 waktunya Kenedy untuk membersihkan dirinya dengan bergegas mandi dan segera pergi ke alam mimpi kanak-kanak yang penuh dengan imajinasi dan khayalan.

“Ken, sayang.. buka kadonya besok lagi ya. Sudah larut malam waktunya kamu untuk beristirahat my boy “, Janet yang mendekat dan mulai membereskan mainan yang baru saja Kenedy dapatkan dari hadiah ulang tahunnya itu.

“Oke Mami..”, jawab Kenedy singkat.. karena Kenedy pun sudah terlihat mulai mengantuk, matanya sudah lima watt…

Kenedy pun segera beranjak ke tempat tidur setelah membersihkan diri dan berganti pakaian menjadi piyama bergaris-garis. Kenedy pun tiba-tiba berkata kepada Janet, “Mami… Besok aku mau buat surat untuk Santa Claus ya… Aku hanya ingin menulis satu surat saja buatnya.. Nanti mami boleh baca sebelum aku kirim ke dia ya.. ” Kenedy tidak memberikan kesempatan kepada Janet untuk menjawab ia atau tidak. Kedua bola matanya yang bulat itu terpejam dengan sendirinya setelah satu kalimat terakhir.

Tentang surat yang akan Kenedy tulis One Letter For Santa Claus (bersambung)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s