21 Yang ke 9 Aku Tanpa-Mu Bapa…

Sepertinya saya harus menulis untuk menenangkan gejolak rasa rindu yang berlebihan kepada seseorang yang saya cintai. Ya saya sedang rindu dengan bapa saya 🙂 .  Sudah hampir 9 bulan dia pergi berpetualang ke surga dan duduk di sebelah kanan Tuhan untuk mengawasi saya dari atas sana 🙂 . Saya percaya itu, dia sudah bersama dengan Tuhan… Saya tidak suka angka 21, buat saya tanggal ini awal mula kehancuran semuanya. Buat seorang anak perempuan yang baru mulai segalanya sendiri dalam artian saya baru mulai bekerja dan merasakan bagaimana hidup mandiri, ternyata saya harus ditinggalkan olehnya. Sebelum beliau meninggal, beberapa bulan sebelumnya dia selalu rutin menghubungi saya lewat sms atau menelpon, dan dia jadi baik mendadak sering isiin pulsa HP. Dan selalu comment di foto-foto album yang ada di facebook. Saya dan dia jarang bertemu saat itu, karena saya masih nge-kost belum kembali lagi pulang ke rumah.

Entah mengapa, bapa saya begitu ngotot meminta saya untuk segera pulang ke-rumah, dia minta agar saya untuk segera kembali dan tinggal bersama-sama lagi. Padahal waktu itu saya rasa, inilah saatnya saya belajar mandiri mengatur keuangan saya. Jadi saya berfikir kalau nge-kost itu jadi ga tergantung sama orang tua. Tapi kalau balik, saya pasti manja lagi sama orangtua, apalagi sama mama saya 🙂 . Dan saya akhirnya pulang, ke rumah tanpa mengerti tanda-tanda itu.

Kerap kali saya tidur di kamar saya atau lagi tidur-tiduran, bapa saya sering sekali ada di depan pintu memandang saya dengan tatapan yang tidak biasa. Tatapannya seperti sangat sedih dan dia sering kali mengatakan bahwa dia akan pergi, rajin mendadak cuci-cuci semua tas akupuntur dan sepatunya. Sampai akhirnya dia selalu bilang makasih dibeliin sabuk coklat kulit yang saya beli di Yogya sewaktu saya berlibur.

Bodohnya saya ga paham, kenapa dia jadi begitu ya? Saya cuman berfikiran positif saja kalau bapa saya jadi lebih baik, ga kepikiran bakalan pergi untuk selama-lamanya , karena bapa saya itu awet muda luar biasa, wajahnya tak terlihat seperti 69 tahun. Masih segar dan bawa motor. Kecelakaan itu, merupakan pukulan yang sangat besar buat saya, dan saya jadi semakin tahu bahwa pihak rumah sakit pun money oriented 🙂 bukan kemanusiaan. Saya merasakan dikecewakan sama pihak-pihak tersebut, dan itu sangat menyebalkan.

Bahkan saya pernah marah-marah sama apoteker ketika saya menukarkan obat ada satu resep yang tertinggal padahal saya udah ngantri, dan sampai saya menunjuk-nunjuk apoteker itu supaya tetap mengurusi resep buat bapa saya. Bapa saya masih muntah darah waktu itu, jadi saya lebih gampang marah, apalagi jarak dari rumah sakit ke tempat penukaran obat itu cukup jauh. Intinya saya tahu bahwa saya sayang sama bapa saya. Karena itu saya marah ketika ada orang yang tidak berusaha mengerti kondisi saya pada saat itu.

Hingga akhirnya di tanggal 21 Agustus 2012 dia pergi untuk selama-lamanya. Di situ saya baru merasakan gimana rasanya kehilangan orang yang biasanya ada, tiba-tiba ga ada. Atau kadang-kadang beberapa minggu setelah beliau tidak ada. Kerap kali saya masih merasa dia hidup dan kadang suka memanggil dia padahal sudah ga ada…

Sekarang sudah hampir tanggal 21 🙂 , 21 yang ke 9 tanpa adanya dia. Dan rumah saya berasa seperti asrama wanita-wanita cantik 🙂 . Hahahaaa… #ea narsis

Intinya mau tanggal 21 itu ke 9 atau ke 10 tetep aja kalau ke orangtua itu kangen terus yah 🙂 . Intinya sih saya ga mau kecewain dia yang udah ga ada dan selalu mengawasi dan melindungi saya dari atas sana. Saya akan pastikan bahwa saya bisa jadi orang sukses dan bisa membanggakan dia. Seengganya masih ada mama yang bisa liat saya jadi sukses, mungkin saya sudah kehilangan satu orang dan saya belum sukses dalam hidup. Tapi saya harus yakin bahwa saya bisa sukses dan membahagiakan orang-orang yang saya sayangi dan cintai.

Mungkin satu hal yang harus saya bilang disini 🙂 , buat kalian yang masih punya orangtua dan lengkap. Sayangi mereka jangan pernah kecewakan mereka, buat mereka tersenyum, dengarkan keluhan mereka, berikan mereka kejutan yang tak terduga, berikan prestasi yang gemilang. Itu jauh lebih bermakna buat mereka. Jangan pernah mengeluh jika anda capek bekerja, tapi lihat wajah ibumu yang menantimu di rumah membuatkan jus jambu atau memberikan apel yang sudah ia kupas 🙂 . Atau tiba-tiba ibumu mengomel jika kamu terlalu giat di depan laptop 🙂 . Saya nikmati itu semua… karena saya ga tahu waktu saya akan bertahan berapa lama bersama beliau. Saya nikmati semua moment indah bersamanya dan bersama adik saya. Saya melihat adik saya pandai, IP bagus itu pun membuat saya bangga.

Selama kamu masih bisa berikan perhatian, berikanlah… lebih peka terhadap keluarga itu jauh lebih baik dibandingkan sok-sok peka terhadap orang lain tapi keluarga sendiri hancur 🙂 ….

“Bapa Aku Rindu pada-Mu… ”

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s