Sayangilah Musuhmu Seperti Engkau Menyayangi Dirimu Sendiri…

Sebagai manusia pada umumnya tak pernah lepas dari yang namanya hubungan sosial. Hubungan sosial itu bisa saja seperti pertemanan, permusuhan, pacaran, hubungan yang lebih intim lagi suami istri atau hubungan lainnya yang sulit diungkapkan dengan kata-kata yang ada pada umumnya. Hari ini saya ingin berbagi tentang sesuatu hal yang basic dari setiap hubungan pertemanan ini, sebagai manusia pada umumnya menaruh rasa percaya kepada seseorang untuk menjadi seorang teman ataupun sahabat.

Namun rasa percaya itu akan sirna atau bisa saja sirna jika salah satu dari orang yang mengatakan bahwa dia adalah sahabat, atau bahwa dia adalah teman menghancurkannya dengan membuat seseorang itu menjadi kecewa, marah dan tidak ingin berhubungan lagi dengan personal itu.

Semua orang pasti pernah dikecewakan, semua orang pasti pernah merasa dirinya sudah memberikan kepercayaan yang begitu besar kepada seseorang, namun ketika kecewa orang tersebut akan memproteksi dirinya layaknya membuat imun di dalam dirinya bahwa saya menolak orang tersebut kembali menjadi teman saya.

Saya mau berbagi sedikit tentang pengalaman saya, ketika saya masih di bangku sekolah saya punya beberapa orang sahabat dan tiba-tiba ada seorang sahabat yang berubah menjadi musuh karena dia tidak bisa melakukan hal yang sama seperti saya. Hal tersebut seharusnya tidak merusak pertemanan/ persahabatan yang sudah dibina selama ini, tapi takdir berkata lain. Akhirnya kami tidak saling bicara, tidak pernah saling menyapa bahkan enggan menjalin relasi kembali.

Semakin saya bertumbuh dewasa dan saya mengalami banyak hal, kasus yang serupa namun dengan tingkat kompleksitas lebih tinggi membuat saya belajar untuk memaafkan orang yang menyakiti saya dan berusaha MENGAMPUNI walaupun saya tidak pernah menegurnya ataupun tidak menyapanya…

Namun kerap kali ketika berbaik hati kepada seseorang yang sebenarnya tidak pantas dikasihani karena meraka adalah musuh? Hati kita tergerak untuk memaafkannya lebih dalam dan mengampuni. Tapi apa yang saya dapat? Orang tersebut jadi semakin tinggi hati dan merasa bahwa dirinya tidak pernah bersalah… bahkan dia terus berusaha “back stab ” dengan segala cara.

Pada dasarnya saya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkahnya dan merasa hubungan seperti ini tidak baik dan saya memutuskan untuk tidak berkomunikasi walaupun sebenarnya cara ini sangatlah salah.

Tetapi saya bukan  seperti Tuhan Yang Maharahim (maha segalanya ) bisa memaafkan musuhnya dan menyayanginya seperti diri Tuhan sendiri.

Mungkin untuk saat ini saya hanya bisa memaafkan dan mengampuninya serta berusaha atau menganalisis sebenarnya maksudnya apa dia seperti itu? Rasanya saya tidak pernah mengusik kehidupannya… tetapi kenapa banyak cara yang dia halalkan untuk membuat saya merasa tidak nyaman dan segera pergi dari suatu tempat. Berusaha mempengaruhi orang-orang, agar mereka memusuhi saya? Atau menjadi tidak suka terhadap saya..

Saya tidak menyangka hal itu ia lakukan sejauh itu, sampai ketika saya tadi pulang dan saya baru menyadari bahwa dia sudah mulai merasuki dan membuat orang-orang menjadi mengejek-ejek saya 🙂 . Apa salahnya jika kita berpamitan dan berkata “dadah aku duluan ya..” ?? Apa salahnya menjadi ramah?? Dan mengapa harus ada sekelompok orang mengikuti gaya saya seperti mengejek?? Mereka fikir saya tidak mendengar? Mereka fikir saya tidak tahu? Saya tahu segalanya.. Saya bisa merasakan aura kebencian mereka begitu menyelimuti tempat itu.

Apakah hal seperti ini membuat saya menjadi benci sama mereka? Tidak… saya tidak membenci mereka sama sekali 🙂 . Saya hanya sedih dan kesal. Saya berkaca dulu terhadap diri saya sendiri. Apakah saya salah? Apakah ada sikap saya yang membuat mereka menjadi tidak nyaman ? Saya tidak tahu… yang jelas dan yang saya tahu. Jika suatu kebohongan selalu ditutupi dengan kebohongan maka kebohongan itu akan menjadi berpangkat tak terhingga dan membuat hidupnya sendiri menjadi tidak nyaman…

Saya tidak bisa menyayangi musuh saya seperti saya menyayangi diri saya sendiri 🙂 . Karena kalau saya menyayangi musuh saya. Maka saya akan merawat tubuh mereka seperti tubuhku dan mengajak mereka ke salon untuk treatment rambut wkwkwkwk.. Atau mengajak mereka untuk shopping atau berlibur ke pantai 😀 …

Untuk saat ini saya hanya bisa mengasihi mereka karena kasihan dan merasa mereka tidak seberuntung saya, karena saya tahu masih banyak atau bahkan ratusan orang yang selalu mendukung dan mencintai saya.. Termasuk dia yang sudah tidak ada di dunia, tetapi saya yakin dia selalu melihat saya selama ini di-sini.

Disini saya tetap berdiri kokoh menghadapi segalanya ..

Disini saya tetap berjuang menghadapi segalanya…

Disini saya selalu ada dan tidak pernah menyerah sedikitpun…

Disini saya ada karena Tuhan selalu mendampingi saya ketika musuh-musuh saya menganggu atau menjahili saya.

Disini saya selalu bisa mengatasi masalah hidup saya dengan lebih dewasa dan selalu lebih dewasa dari hari ke-hari.

Disini saya selalu berusaha untuk “Sayangilah Musuhmu seperti Engkau Menyayangi Dirimu Sendiri”

 

 

Iklan

2 thoughts on “Sayangilah Musuhmu Seperti Engkau Menyayangi Dirimu Sendiri…

  1. There’s a quotation: ” A real person is not perfect. But, A perfect person is also not real”
    You still are not perfect, but what you did is great…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s