Kelam

Ranting-ranting pohon itu bergerak-gerak seakan-akan ingin melarikan diri,

Angin itu menarjangnya tanpa rasa iba sedikitpun,

Sang Pohon tak bisa menyelamatkan ranting-ranting itu,

Ia hanya mencoba bertahan dengan sekuat tenaganya,

Malam semakin kelam dan cahaya pun tak menyinari,

Kelam membuat anggota tubuh sang pohon ketakutan,

Sang pohon hanya terus mencoba mengokohkan akar-akarnya,

Anggota tubuh sang pohon kian lama,

tak bisa bertahan karena kelam datang dan tak memberinya ampun untuk terus bertahan.

Created by : Willma Quenicka

Iklan

9 thoughts on “Kelam

      • Baiklah, Saudaraku Wilma.
        Pada dasarnya, puisi ini bagus, sebab hampir mirip dengan gaya Rendra. Andai saja lebih dipadatkan jua akan tampak berkesan lebih rapi.

        Sebagai contoh (saya coba ambil dua baris dari puisi di atas/maaf saya kopi) :

        Ranting-ranting pohon itu bergerak-gerak seakan-akan ingin melarikan diri,
        Angin itu menarjangnya tanpa rasa iba sedikitpun,

        >> tolong dibedakan dengan yang di bawah ini :

        Reranting pohon itu bergerak–seakan hendak berlari
        Ketika angin menerjang tanpa ampun sedikitpun

        >> Alasanya :

        1. Jangan terlalu melakukan banyak melakukan pengulangan dalam satu baris, bait, ataupun keseluruhan isi yang tidak terdiri dari subyek, predikat, sebab obyek di dalam puisi ini sudah tampak begitu mencolok pada baris pertama.

        2. Kata “itu” yang ada pada baris satu, dua, dan tiga, sebenarnya sesuatu yang sangat sederhana (sepele), namun itu sangat mengganggu para pembaca (menghilangkan estetika pada puisi itu sendiri) bila terletak dalam jarak yang sangat berdekatan.

        3. Alasan penyair dalam menyangkal dua hal ini biasanya “sebagai penguat makna” (ini alasan yang sudah kuno/perlu dikaji ulang), dann kita juga mesti menyadari jika pengulangan dan penempatan kata sambung dan pengulangan yang terlalu berlebihan bisa membuat puisi itu mati (kehilangan ruh), kecuali pada puisi yang bersifat mantra,sebab puisi mantra memiliki dan menempati fungsinya sendiri sebagai salah satu karya sastra yang dikategorikan dalam bentuk puisi.

        Maaf.., saya hanya mencoba menikmati dan bertutur apa adanya, serta sekedar mencoba berbagi. Sekali lagi maaf.

        Salam santunku selalu sahabatku.. 😉

      • Eh gpp justru aku butuh banyak masukan untuk gaya tulisan di puisi maupun di cerita pendek atau novel.. aku ada novel yang aku buat juga 🙂 pengen bgt ada yang baca dan kasih saran. Aku juga udah diikut sertakan ke lomba tapi alhasil kalah terus.. mungkin karena tidak ada yang koreksi ditambah kesibukan bekerja. Terimakasih banyak atas masukannya nanti akan saya perbaiki lagi. Terimakasih ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s