Papaku adalah Mata Penaku :’)

Saya suka menulis sebenarnya sudah dari sekolah dasar. Waktu kelas 6 SD saya masih ingat saya diminta guru bahasa Indonesia untuk mengikuti lomba menulis sinopsis. Walaupun tidak menang itu adalah awal karier saya dalam dunia tulis menulis. Dan kegiatan tulis menulis saya sebenarnya tidak berhenti, masih berlanjut.

Sewaktu saya masih duduk di bangku SMP. Saya masih ingat dulu saya minta buku agenda ke papa saya. Papa saya adalah seorang penulis juga. Namun bedanya dia nulis soal-soal bahasa sunda di majalah SD yang sempat buming.. Masih ingat majalah Arif? yang isinya soal-soal latihan mulai dari bahasa Indonesia, bahasa Inggris, matematika, IPA, IPS, dan tidak lupa ada bahasa muatan lokal yaitu bahasa Sunda. Dan anyway itu papa saya yang buat soal-soalnya.

Aku dulu sempat rebutan agenda baru yang baru dikirim sama grasindo, sampe akhirnya si papa mengalah :)) dan memberikan buku agenda itu buat saya. Katanya gini “ameh pinter jeung cageur!” dia tertawa bilang kata cageur -_____- ” seolah-olah anaknya itu kurang cageur. hahahhaa… emang dia suka becanda, walaupun becandanya rada #jleb.

Waktu smp saya punya teman  dekat dan kami sering tulis-tulis lirik lagu kesukaan kami di agenda kami masing-masing. Atau kita suka buat puisi-puisi anak smp yang agak alay. Jamannya masih belum pernah pacaran dan masih belum kenal cowo waktu itu. Jadi masih menerka-nerka rasanya jatuh cinta itu seperti apa 🙂 . Kalau diingat itu semua lucu banget! Masa-masa puber dini yang sudah terlewat. Buat saya itu adalah hal yang terindah karena saya pernah melewatinya.

Entah berapa buku agenda yang saya habiskan sewaktu duduk di sekolah menengah pertama. Sampai akhirnya kegiatan menulis saya benar-benar terhenti di waktu saya kuliah,.. Saya masuk ke suatu lingkungan yang memang membuat saya sangat sibuk. Sangatnya itu sampe-sampe membuat saya kadang kalau pagi-pagi mau berangkat kuliah.. SAYA GA MANDI, dan keadaan kurang tidur hanya gara-gara ngerjain tugas yang menghabiskan waktu semaleman.

Fiuhhhhhh untung masa-masa itu sudah terlewati masa-masa jarang mandi dan berani keluar kosan dengan kondisi badan kucel kumel sudah saya lewati.  Di masa kuliah saya benar-benar tidak menulis. SIBUK ga jelas..

Sampai akhirnya kejadian yang tidak saya inginkan itu terjadi.. Mungkin buat semua orang yang baca ini dan masih punya seorang papa harus mulai sadar atau peka jika seseorang yang akan pergi jauh dan meninggalkan kita sikapnya akan berubah.

Untuk kasus ini saya mengalaminya sendiri 🙂 , sekitaran akhir Juni tiba-tiba kirim pulsa ke saya.Dan minta saya menghubunginya. Saya telepon dia dan ternyata dia pengen saya pulang ke rumah dan tidak ngekos lagi. Awalnya sih mikir-mikir kalau harus balik ke Cimahi yang jaraknya cukup jauh dari kantor saya. Tapi, karena papa saya yang minta dan saya sempat ngobrol sama teman saya apakah lebih baik tinggal lagi di  Cimahi atau tidak. Teman saya menyarankan untuk pulang ke Cimahi saja. Karena apa?? Karena saya bisa jadi lebih hemat dan tidak mengeluarkan biaya untuk biaya kos walaupun ongkos jalan jadi lebih mahal. Tapi ya sudahlah di coba saja.

Saya ingat waktu itu saya pindah ke rumah sekitar tanggal 28 juli 2012, karena jatuh tempo uang kosan itu setiap tanggal 1. Dan cerita yang ditakdirkan Tuhan dan sebenarnya kalau saya suruh milih. Saya ga akan pernah atau MENGINGINKAN semua itu terjadi. Tepat tanggal 6 Agustus 2012 kecelakaan itu menimpa papa saya 😥 . Sudah ada di depan sebrang rumah tinggal belok ke gang rumah. Harus di tabrak dari belakang !!!

Ketika kejadian saya ada di tempat kerja. Tapi selama saya kerja memang ngerasa perasaan saya tidak enak. Selalu teringat wajah papa saya. Sehari sebelumnya papa saya pernah bilang kalau dia udah mewariskan ilmunya ke adik saya tentang akupuntur dan dia minta saya belajar juga. Tapi karena saya sibuk dan pulang malam. Saya jadi agak malas kalau papa ngajakin belajar.

Itu kesalahan TERBESAR dalam hidup saya.. Kalau saya tahu, kalau saya ngerti kenapa si papa ngotot gitu. Pasti saya akan turutin semua kemauannya. Saya akan belajar akupuntur. Karena setelah papa saya pensiun menjadi guru dan tidak menulis lagi di majalah Arif karena sudah abis kontrak . Beliau belajar otodidak tentang pengobatan china secara tradisional dengan akupunktur.

Penyesalan itu datang di akhir 🙂 dan saya benar-benar menyesal ga belajar satu ilmu yang hebat ini dari papa saya. Tepat 3 hari setelah lebaran di tahun 2012. Dia akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir. 😦 . Ya dia pergi untuk selamanya. Jika mengingat waktu itu, saya benar-benar tidak kuasa untuk menahan tangis. Satu hari itu saya nangis dan menangis… ga inget buat makan.. ga inget apa-apa.

Kepala saya kosong dan ngerasa saya adalah anak yang BODOH dan tidak bisa membahagiakan orang tuanya. Saya baru bekerja satu tahun kurang 2 bulan. Tapi papa saya sudah ga ada dan saya belum pernah kasih apa-apa sama dia. Bahkan waktu untuk bersamapun saya jarang sekali kasih.

Dua bulan lamanya saya merasakan hidup saya kacau, saya ga konsen kerja, saya ga konsen ngapa-ngapain. Karena masalah saya yang datang bukan masalah tentang ditinggal papa saya tetapi ada masalah lain yang membuat saya menjadi semakin enggan. Enggan melakukan apa-apa selama 2 bulan.

Tapi saya menulis,,. karena saya baca dari beberapa artikel menulis dapat membuat seseorang yang stress atau sakit menjadi lebih tenang ..

Dan ternyata artikel itu benar. Saya menulis ungkapan hati saya dan kekecewaan. Saya mengungkapkannya ke dalam cerita pendek yang saya buat. Pokonya saya mengalihkan pikiran saya agar tidak larut terus.

Dan sampe akhirnya, hingga sekarang saya menulis.. Saya menulis karena saya ingin menjadi seperti papa saya.. Dia adalah semangat saya dalam menulis cerita-cerita fiksi saya. Dan kalau saya merindukannya saya semakin rajin menulis dan terus menulis. Kadang saya merindukan di tengah malam melihat beliau belajar di ruang tengah sambil membaca buku akupuntur dan membuat rumus-rumus untuk dia menghafal atau membuat modul untuk murid-muridnya di lembaga akupuntur tempat ia mengajar.

Buat saya Papa saya adalah mata pena saya. Semakin saya merindukannya, semakin air mata ini menetes, semakin saya ingin terus menulis dan berkarya supaya papa saya tahu walaupun saya tidak belajar akupunturis ada satu yang menurun dari dia yaitu semangat saya untuk menulis dan bisa ada karya yang terbit seperti beliau.

Terimakasih Pah 🙂 .. Terimakasih buat segalanya, dan email terakhir itu masih aku simpen baik-baik 🙂 …

Aku kangen.. aku selalu kangen dan ga akan pernah ga!

Love u Dad :*

my dad

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s