One Letter for Santa Claus PART 1….

New Zealand, 20 Desember 2012

new zealand

Salju itu berterbangan, bagaikan gulali putih yang siap ditangkap. Hari ini adalah hari ulang tahun Kenedy yang ke sepuluh tahun.Banyak tamu yang datang menghadiri pesta kecil-kecilan yang diselenggarakan di taman belakang rumahnya itu. Sang mama Janet memberikan banyak kado kepada anaknya. Namun, entah mengapa Kenedy masih nampak murung, kemilau senyuman yang biasa terpancar tak terlihat di hari peringatannya itu.

Kenedy hanya duduk sendiri dan menepi di pojokan taman rumahnya. Sang ibu, Janet masih sibuk menerima tamu yang berdatangan ke rumahnya itu. Janet begitu gembira dengan kedatangan banyak orang yang datang membawakan banyak hadiah untuk anaknya tercinta. Namun kebahagian yang dialami Janet, tidak tersirat sedikitpun diwajah merah Kenedy.

Janet masih sibuk dengan kado-kado yang baru saja ia terima, kedua tangannya penuh dan memeluk berbagai bingkisan yang terbungkus dengan rapi dan indah. Janet mencoba mencari tempat untuk menyimpan kado-kado yang baru saja ia terima dan berapa tamu undangan. Janet melihat meja di dekat air mancur itu tidak terlalu penuh, hanya berisi gelas-gelas kosong yang belum terisi air minum. Janet pun berjalan menuju arah meja yang ia anggap bisa menjadi tempat untuk menaruh kado-kado nan ramai itu.

Setelah ia selesai merapikan kado-kado itu menjadi tumpukan yang rapi di pojokan meja beralaskan taplak berenda itu, kini pandangan Janet menyebar ke seluruh penjuru taman mencari sesosok yang seharusnya terlihat sedari tadi. Ya ! Seharusnya Janet melihat Kenedy sedang asik bermain dengan teman-teman yang hadir dalam pesta ulang tahunnya, namun kenyataannya berbalik 90 derajat.

Kenedy sedang murung di pojokan taman dengan kedua tangan menopang kedua pipi yang berbentuk seperti buah persik itu. Janet pun menghampiri anaknya itu, langkahnya perlahan tetapi pasti mendekat ke arah anak lelaki semata wayangnya itu.

Dibelainya rambut keemasan milik Kenedy, dengan gerakan yang sedikit memanjakan anaknya. Janet memeluk badan mungil Kenedy “Hai , darling kenapa kamu sendiri disini ? Kok murung sih ? ”

Kenedy masih saja diam, tak berkutik sedikit pun dan tempat duduknya. Sang ibu masih berusaha membujuk anaknya.. Digapainya dagu kecil Kenedy dan tatapan sang Ibu dan anak saling bertemu. Janet memandangi kedua bola mata berwarna biru itu.

“Ken, kamu kenapa sayang ? Di hari specialmu ini mengapa kamu bersedih? Apa kado dari mama masih kurang nak?” tanya Janet dengan  lirih.

Kenedy hanya memandang wajah cantik ibundanya tanpa berkata apapun. Namun pandangan Kenedy seperti memohon sesuatu kepada Janet. Akhirnya Janet pun menyadari bahwa anaknya itu sedang merindukan sosok lain.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s